JAMBI — Dua regu tim gabungan diterjunkan untuk menyisir jalur dan mengarahkan seluruh pendaki turun menuju Pos Ranupani. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi meluasnya titik api yang berada di Blok Ranu Kembang, kawasan dengan topografi curam dan terjal yang menyulitkan akses petugas di darat.
Pemadaman Lewat Udara dan Sterilisasi Jalur Pendakian
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan jalur darat yang sulit ditembus membuat pemadaman akan difokuskan melalui jalur udara dengan metode water bombing. "Hari ini dua regu tim gabungan turun ke Ranu Kumbolo. Jalur pendakian Semeru ditutup total akibat karhutla dan lokasi harus bersih dari aktivitas pendaki," ujarnya.
Penutupan ini sekaligus membatalkan izin operasi jalur pendakian yang sempat dibuka kembali sejak 24 April 2026 dengan batas akhir di Ranu Kumbolo. Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan sterilisasi kawasan menjadi prioritas utama untuk memberi ruang gerak bagi tim penyelamat sekaligus mempermudah proses pemadaman.
Larangan Keras Aktivitas Pemicu Api di Kawasan Konservasi
Otoritas taman nasional mengimbau seluruh wisatawan, pendaki, dan pelaku jasa wisata untuk tidak memaksakan diri menerobos jalur yang telah ditutup. Pengunjung juga diminta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu titik api baru, seperti membuat api unggun, membuang puntung rokok, membakar sampah, hingga menyalakan flare atau kembang api.
"Langkah penutupan diresmikan demi memastikan operasional pemadaman berjalan optimal serta melindungi keselamatan para pengunjung dan petugas di lapangan," kata Rudijanta. Langkah tegas ini dinilai krusial untuk mempermudah pemulihan ekosistem konservasi di kawasan Gunung Semeru pasca-kebakaran.