Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Saifuddin, Kabupaten Batang Hari, Jambi, telah menghanguskan 360 hektare lahan konservasi. Gubernur Jambi Al Haris menyatakan perluasan area terdampak mendorong pemerintah menambah personel pemadam dari 5.900 menjadi 7.000 orang.
BATANG HARI — Gubernur Jambi Al Haris mengakui kompleksitas medan dan luasnya kawasan konservasi menjadi kendala terbesar dalam memadamkan api di Tahura Sultan Thaha Saifuddin. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya warga yang membuka lahan di dalam kawasan hutan tersebut.
"Untuk hutan Tahura ini luar biasa luasnya dan cukup kompleks. Saat ini sudah banyak masyarakat yang berladang di situ, sehingga tidak mudah bagi kami untuk melakukan pemadaman," kata Al Haris di Kabupaten Batang Hari, Selasa.
Luas Lahan Terbakar Capai 360 Hektare
Berdasarkan data terbaru per 7 September, kebakaran lahan di kawasan konservasi itu telah mencapai 360 hektare. Angka ini menjadikan Tahura Sultan Thaha Saifuddin sebagai salah satu titik kritis karhutla di Provinsi Jambi.
Al Haris menegaskan pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga mengedepankan upaya pencegahan agar kebakaran tidak merembet ke lahan milik masyarakat. Karhutla yang berkepanjangan dinilai berpotensi menimbulkan kerugian dan mengganggu aktivitas warga sekitar.
Gangguan Aktivitas Penerbangan di Bandara
Letak Kabupaten Batang Hari yang menjadi daerah penyangga ibu kota provinsi membuat dampak karhutla tidak bisa dianggap remeh. Al Haris menyebut kabut asap yang ditimbulkan kebakaran otomatis mengganggu aktivitas penerbangan di bandara setempat.
Kondisi tanpa hujan yang berkepanjangan disebut memperberat upaya pemadaman di lapangan. Penambahan personel menjadi 7.000 orang dilakukan untuk mempercepat penanganan di titik-titik api yang tersebar.
Modifikasi Cuaca Dijadwalkan 10 September
Pemerintah Provinsi Jambi menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 10 September 2026 untuk membantu mengatasi kondisi cuaca kering. Langkah ini diambil sebagai upaya alternatif di luar pemadaman manual.
"Mudah-mudahan 10 September tim akan melakukan modifikasi cuaca. Semoga ketemu bibit hujannya. Kita harapkan di wilayah Batang Hari ada bibit hujan, sehingga memudahkan tim melakukan OMC nantinya," ujar Al Haris.
Satgas Karhutla Jambi berharap operasi tersebut dapat menciptakan hujan buatan yang mampu membasahi lahan gambut dan kawasan hutan yang selama ini sulit dijangkau petugas pemadam.