Pencarian

PLN Genjot Pasokan LNG demi Listrik Andal, Data Center Butuh Tambahan 15 GW

Selasa, 04 Agustus 2026 • 10:18:01 WIB
PLN Genjot Pasokan LNG demi Listrik Andal, Data Center Butuh Tambahan 15 GW
Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN, Rakhmad Dewanto, menyampaikan paparan dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Bali, Senin (3/6/2026).

JAMBI — Ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik kini menjadi perhatian serius PT PLN (Persero). Perusahaan listrik pelat merah itu menilai situasi tersebut semakin menegaskan pentingnya ketahanan energi nasional, di mana LNG tidak hanya berfungsi sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan.

"Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel," ujar Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Bali, Senin (3/6/2026).

Konsumsi Listrik Melonjak, PLN Siapkan Gas sebagai Penyeimbang

Lonjakan konsumsi listrik nasional tidak bisa dihindari. Ekspansi sektor industri, elektrifikasi transportasi, hingga bermunculannya kawasan ekonomi baru menjadi pendorong utama. Yang paling menonjol, kebutuhan listrik untuk pusat data (data center) diproyeksikan melonjak signifikan, dengan tambahan kebutuhan sekitar 15 GW dalam lima tahun mendatang.

Data internal PLN menunjukkan kebutuhan energi primer nasional tumbuh sekitar 2 persen per tahun. Namun, permintaan listrik meningkat jauh lebih tinggi, yakni di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen per tahun. Angka ini menuntut ketersediaan pasokan gas dan LNG yang semakin andal untuk menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan, sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Batu Bara Berkurang, EBT Naik, LNG Jadi Jembatan

Peta jalan kelistrikan nasional dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 memperlihatkan perubahan besar. Produksi listrik nasional diperkirakan meningkat dari 304,4 terawatt hour (TWh) menjadi 584,3 TWh. Pada periode yang sama, porsi pembangkit berbasis batu bara diproyeksikan turun drastis menjadi sekitar 47 persen, sementara kontribusi EBT meningkat hingga 33 persen.

Di tengah peralihan ini, LNG akan memegang peran krusial sebagai energi penyeimbang (balancing fuel). Kehadirannya menjadi kunci untuk menjaga keandalan sistem saat pembangkit surya dan angin mengalami fluktuasi akibat kondisi cuaca. Tanpa pasokan gas yang memadai, transisi ke energi hijau berisiko mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional.

Untuk mengamankan pasokan ini, PLN tidak hanya mengandalkan kontrak jangka panjang, tetapi juga membangun infrastruktur pendukung. Langkah ini dinilai penting untuk menjamin pasokan listrik yang aman, andal, dan fleksibel di tengah dinamika kebutuhan energi nasional yang terus berubah.

Follow jambitime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks