JAMBI — Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengungkapkan bahwa keberhasilan program co-firing tidak semata-mata soal ketersediaan bahan baku. Faktor seperti efisiensi rantai pasok, standar kualitas yang konsisten, dan infrastruktur pengolahan yang andal menjadi penentu utama.
"Sekitar 90 persen pembangkit listrik di Indonesia masih menggunakan energi fosil. Karena itu, kami terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara," ujar Hokkop dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries Symposium 2026 di Jakarta, pekan ini.
Pasokan 2025 Tembus 2,35 Juta Ton, Emisi Turun 2,72 Juta Ton CO2
Sepanjang 2025, PLN EPI telah memasok 2,35 juta ton biomassa ke PLTU di berbagai wilayah. Realisasi ini berkontribusi pada penurunan emisi karbon sekitar 2,72 juta ton CO?e. Perusahaan menargetkan volume pasokan naik menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027.
Secara kumulatif sejak 2023 hingga 2026, total biomassa yang sudah disalurkan mencapai 4,77 juta ton. Pasokan ini didominasi oleh sawdust (54,6 persen) dan woodchip (22,4 persen)—keduanya merupakan residu industri kehutanan dan perkebunan.
Hokkop menegaskan bahwa seluruh biomassa yang digunakan berasal dari residu, bukan dari penebangan hutan. "Kami memanfaatkan residu yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi. Ini menciptakan nilai tambah tanpa mengorbankan kelestarian hutan," jelasnya.
Model Spoke-Hub dan Marketplace Biomassa
Untuk menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan, PLN EPI mengembangkan model Spoke–Hub. Sistem ini mengintegrasikan titik pengumpulan bahan baku (sub hub), fasilitas produksi (hub), hingga pusat pengolahan dan pengendalian mutu (main hub) sebelum biomassa dikirim ke pembangkit.
Model ini diperkuat oleh Marketplace Biomassa—platform digital yang mempertemukan pemasok dengan kebutuhan biomassa di setiap PLTU. Saat ini, PLN EPI sudah mengoperasikan fasilitas pengolahan di Tasikmalaya dan Ciamis, masing-masing berkapasitas 10 ton per jam.
Ke depan, perusahaan akan memperluas jaringan hub ke Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, hingga Suralaya. Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah Indonesia, baik melalui investasi sendiri maupun kolaborasi dengan mitra strategis.
Target NZE 2060: Fondasi dari Hulu ke Hilir
Melalui standardisasi, pembangunan infrastruktur, dan digitalisasi rantai pasok, PLN EPI membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah ini tidak hanya meningkatkan keandalan pasokan energi primer, tetapi juga mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.
Hokkop menambahkan, program co-firing biomassa sudah diimplementasikan di 52 PLTU di seluruh Indonesia. Dengan penguatan rantai pasok dan infrastruktur yang masif, perusahaan optimistis dapat menjadi fondasi utama transisi energi nasional menuju target NZE 2060 atau lebih cepat.