Kegagalan sebuah perusahaan atau organisasi dalam melewati masa sulit sering kali bukan disebabkan oleh krisis itu sendiri. Banyak entitas besar tumbang karena pemimpinnya terlambat atau bahkan gagal memberikan "sinyal bahaya" kepada seluruh anggota timnya.
Pernyataan tajam tersebut dilontarkan oleh mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, saat mengisi Seminar Publik bertajuk Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global. Kegiatan yang berlangsung di Universitas Paramadina ini menyoroti bagaimana seorang nahkoda organisasi harus bersikap di tengah situasi yang tidak menentu.
Mengapa Pemimpin Dilarang Menjalankan Organisasi 'Seperti Biasa'?
Dahlan menekankan bahwa kunci bertahan di masa sulit bukanlah sekadar menyusun strategi bisnis di atas kertas. Lebih dari itu, seorang pemimpin wajib memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang mungkin tidak disukai oleh banyak pihak atau tidak populer.
Menurutnya, krisis akan menjadi semakin parah jika sebuah organisasi tetap berjalan normal tanpa adanya kesadaran kolektif bahwa situasi telah berubah. Pemimpin memegang tanggung jawab penuh untuk menciptakan kesadaran tersebut melalui tindakan nyata yang terasa hingga ke level bawah.
“Kalau karyawan tidak paham sedang krisis, pemimpin harus memberi sinyal. Caranya? Pangkas divisi yang tidak perlu,” tegas Dahlan dalam paparannya baru-baru ini.
Belajar dari Langkah Ekstrem Menghadapi Krisis Ekonomi 1998
Guna memberikan gambaran nyata, tokoh pers nasional ini membeberkan pengalaman ekstremnya saat menakhodai organisasi pada masa krisis ekonomi tahun 1998. Kala itu, ia menerapkan kebijakan penghematan yang sangat ketat untuk memastikan kelangsungan hidup perusahaan.
Langkah yang diambil tidak hanya menyasar operasional kantor, tetapi juga menyentuh aspek personal yang dianggap bisa mengganggu fokus penghematan. Dahlan bahkan melakukan pengawasan langsung terhadap pengeluaran-pengeluaran yang dianggap tidak mendesak.
“Saya sampai melarang karyawan belanja hal tidak penting. Bahkan bikin pagar rumah saja saya larang,” kenang Dahlan. Hal ini dilakukan agar seluruh elemen dalam organisasi memiliki frekuensi yang sama mengenai kondisi darurat yang sedang dihadapi.
Bagaimana Cara Dahlan Iskan Melakukan Transformasi di PLN?
Cerita kepemimpinan Dahlan berlanjut saat ia dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memimpin PLN. Ia mengakui bahwa saat pertama kali datang, dirinya sama sekali tidak memiliki latar belakang atau pemahaman mendalam mengenai sektor kelistrikan.
Namun, keterbatasan itu tidak menjadi penghalang untuk melakukan transformasi besar. Dahlan memilih pendekatan kepemimpinan berbasis pembelajaran cepat dengan menggali informasi langsung dari internal perusahaan.
“Saya belajar dari orang dalam PLN, dari hulu sampai hilir,” katanya. Selain belajar dengan cepat, ia juga dikenal sangat tegas sejak awal masa jabatannya, termasuk dalam mengajukan syarat-syarat tertentu kepada Presiden demi memastikan perubahan di tubuh organisasi dapat berjalan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit.