BUNGO — Pendaratan perdana pesawat Batik Air di Bandara Muaro Bungo menjadi pintu baru konektivitas udara bagi kawasan barat Provinsi Jambi. Penerbangan langsung Jakarta–Muaro Bungo ini disebut hanya memakan waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit.
Direktur Utama Batik Air Capt. Daniel Putut Kuncoro menyebut kehadiran maskapainya di bandara tersebut bukan sekadar membuka rute baru, melainkan menghubungkan wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau melalui udara.
“Dari Muaro Bungo ke Jakarta ini hanya sekitar 1 jam 10 menit. Hari ini kita merayakan penerbangan perdana Batik Air. Ini bukan hanya soal penerbangan, tetapi tentang konektivitas,” ujar Capt. Daniel dalam pernyataannya di Bungo, Senin.
Konektivitas ke Luar Negeri hingga Peluang Umrah Terbuka
Melalui jaringan Lion Group, penumpang dari Muaro Bungo tidak hanya bisa melanjutkan perjalanan ke berbagai ibu kota provinsi di Indonesia. Capt. Daniel menambahkan, konektivitas juga dirancang tersambung ke rute internasional, termasuk untuk perjalanan ibadah umrah ke Madinah dan Jeddah.
“Dari Jakarta, masyarakat bisa melanjutkan perjalanan ke seluruh ibu kota provinsi di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Untuk masyarakat yang akan menjalankan ibadah umrah, kami juga mempersiapkan konektivitas menuju Madinah maupun Jeddah,” katanya.
Penerbangan perdana dari Muaro Bungo menuju Jakarta mengangkut 139 penumpang. Capt. Daniel berharap jumlah tersebut bisa terus terjaga setiap hari agar rute ini berkelanjutan.
Potensi Daerah dan Dukungan Fasilitas Bandara
Menurut Dirut Batik Air, kehadiran penerbangan langsung diyakini akan membuka peluang investasi di sektor pariwisata, perkebunan sawit, tambang emas, dan batu bara yang ada di wilayah Bungo dan sekitarnya. Ia optimistis konektivitas yang lebih singkat akan mendorong pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Meski demikian, Capt. Daniel menyoroti pentingnya peningkatan fasilitas di Bandara Muaro Bungo. Menurutnya, kelengkapan seperti sistem pengamanan bagasi, PAPI, dan ALS sangat berpengaruh terhadap ketepatan waktu penerbangan dan konektivitas lanjutan.
“Kami berkomitmen menghadirkan pelayanan terbaik melalui Batik Air. Harapan kami, penerbangan ini ikut meningkatkan investasi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, serta membuka peluang kerja bagi generasi muda daerah,” kata Daniel.
Bandara Muaro Bungo Jadi Gerbang Wilayah Barat Jambi
Bupati Bungo Dedy Putra menyebut penerbangan ini sudah lama dinantikan masyarakat. Ia mengingat proses panjang pembangunan bandara yang dimulai sejak 2005 dengan pembelian lahan seluas 360 hektare.
“Ini adalah sesuatu yang kami tunggu-tunggu. Bandara ini dibangun sejak 2005. Dari tanah yang belum ada, kita mulai dengan pembelian lahan 360 hektare. Alhamdulillah hari ini Batik Air hadir di Muaro Bungo,” ujar Dedy.
Bandara Muaro Bungo tidak hanya diperuntukkan bagi Kabupaten Bungo. Dedy menegaskan bandara ini menjadi pintu gerbang bagi wilayah barat Provinsi Jambi, meliputi Tebo, Merangin, Sarolangun, Kerinci, Kota Sungai Penuh, serta Kabupaten Dharmasraya di Sumatera Barat.
“Bandara ini bukan hanya untuk Bungo, tetapi untuk Jambi wilayah barat plus Dharmasraya. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung penerbangan Batik Air lewat Bandara Muaro Bungo,” katanya.
Dedy berharap kehadiran Batik Air dapat meningkatkan mobilitas masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Akses transportasi udara yang lebih mudah diyakini akan membuka peluang masuknya investor dan mempercepat perjalanan warga.