JAMBI — Data terbaru BPS Jambi menunjukkan bahwa nilai ekspor pada Mei 2025 mencapai angka yang jauh melampaui capaian periode yang sama tahun lalu. Lonjakan 68,29 persen ini menjadi kabar baik di tengah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global. Sektor pertambangan dan perkebunan menjadi motor utama di balik pertumbuhan ini.
Komoditas Apa yang Paling Banyak Diekspor?
Batu bara masih menjadi primadona ekspor Jambi. Permintaan dari negara-negara Asia seperti India dan China dinilai masih tinggi. Selain itu, harga CPO yang cenderung stabil di pasar global turut mendongkrak nilai ekspor secara keseluruhan.
“Kenaikan ini cukup mengejutkan karena di saat yang sama, inflasi kita juga naik. Ini menunjukkan sektor riil di hulu masih bergerak, tapi belum tentu dirasakan langsung oleh masyarakat di hilir,” ujar seorang pengamat ekonomi Universitas Jambi yang enggan disebutkan namanya.
Inflasi 3,56 Persen: Siapa yang Paling Terdampak?
Di sisi lain, inflasi Mei yang tembus 3,56 persen menjadi perhatian serius. Angka ini masih dalam batas wajar secara nasional, namun kenaikan harga bahan pangan seperti beras dan cabai merah mulai membebani rumah tangga berpenghasilan rendah.
BPS Jambi mencatat, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi. Kenaikan harga transportasi juga ikut mendorong indeks harga konsumen (IHK) naik.
Apakah Lonjakan Ekspor Bisa Meredam Inflasi?
Hubungan antara ekspor dan inflasi tidak selalu linear. Lonjakan ekspor memang menambah devisa dan pendapatan daerah, namun jika tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan lokal, daya beli masyarakat tetap tertekan.
Pemerintah Provinsi Jambi sendiri tengah mendorong program stabilisasi pasokan pangan melalui operasi pasar murah di sejumlah kecamatan. Namun, efektivitasnya masih perlu diuji karena distribusi logistik di daerah pedalaman kerap menjadi kendala.
Apa Langkah Selanjutnya?
Untuk mengoptimalkan momentum ekspor, Pemprov Jambi berencana memperluas akses pasar ke negara-negara non-tradisional di Afrika dan Timur Tengah. Sementara itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jambi diminta mempercepat realisasi anggaran untuk subsidi transportasi pangan.
“Kuncinya ada di keseimbangan. Ekspor naik, inflasi harus ditekan. Kalau tidak, pertumbuhan hanya dinikmati segelintir korporasi,” pungkas pengamat tersebut.