Pencarian

Basalt Space Tawarkan Layanan Satelit Kustom Pesaing Dominasi Starlink Elon Musk

Senin, 04 Mei 2026 • 17:33:01 WIB
Basalt Space Tawarkan Layanan Satelit Kustom Pesaing Dominasi Starlink Elon Musk

Basalt Space memperkenalkan layanan penyewaan konstelasi satelit kustom berbasis AI untuk memberikan akses data ruang angkasa yang lebih mandiri. Startup asal San Francisco ini memungkinkan perusahaan memiliki 5 hingga 15 satelit sendiri tanpa ketergantungan pada penyedia besar seperti Starlink.

Max Bhatti dan tim insinyur di Basalt Space bekerja 22 jam sehari sepanjang Maret lalu demi merakit satelit perdana mereka. CEO Basalt Space tersebut bahkan berkelakar bahwa pola kerja "996" yang ekstrem di industri teknologi China terasa seperti liburan dibandingkan tekanan yang mereka hadapi. Tim ini beroperasi di sebuah tenda khusus dengan ventilasi ketat di dalam apartemen kawasan Lower Nob Hill, San Francisco, untuk memastikan komponen elektronik tetap steril.

Apartemen tersebut berfungsi ganda sebagai kantor sekaligus rumah bagi tim Basalt selama dua tahun terakhir. Layaknya hacker house, sudut ruangan dipenuhi tumpukan ramen dan peralatan gym luar ruangan. Urgensi ini muncul seiring gelombang ketiga pengembangan satelit di Amerika Serikat yang semakin kompetitif, di mana kecepatan eksekusi menjadi kunci utama bertahan hidup.

Basalt Space hadir dengan visi ambisius untuk mendemokratisasi akses pencitraan, navigasi, dan komunikasi satelit. Selama ini, data ruang angkasa didominasi pemerintah atau kontraktor pertahanan besar. Melalui inovasi ini, Basalt ingin memastikan pelanggan tidak perlu khawatir akses transmisi mereka diputus secara sepihak oleh penyedia layanan besar seperti Starlink di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Model Bisnis Cloud Computing untuk Ruang Angkasa

Berbeda dengan pemain lama seperti Planet Labs atau Skybox Imaging yang menjual data spesifik, Basalt Space menawarkan kendali penuh. Mereka memposisikan diri layaknya perusahaan cloud computing yang menyewakan server di pusat data. Pelanggan bisa langsung menginstruksikan konstelasi satelit mereka sendiri untuk memotret wilayah tertentu tanpa harus mengantre dengan pengguna lain.

"Pertanyaan mendasar yang saya ajukan saat mendirikan perusahaan adalah: apa hal paling fundamental yang bisa kita ubah dari industri dirgantara?" ujar Max Bhatti. Menurutnya, pengguna akhir seharusnya memiliki kemampuan untuk langsung menugaskan sebuah konstelasi, bukan sekadar satu satelit.

Layanan ini diproyeksikan sangat berguna bagi sektor agrikultur untuk mendeteksi hama lebih dini melalui data visual yang cepat. Selain itu, organisasi berita dan investor bisa memanfaatkan data ini untuk memantau arus perdagangan serta migrasi secara real-time tanpa hambatan birokrasi dari pihak ketiga.

Spesifikasi dan Inovasi Operasional Basalt Space

Keunggulan utama Basalt terletak pada efisiensi biaya manufaktur yang turun drastis dalam lima tahun terakhir. Berikut adalah beberapa poin kunci dari operasional mereka:

  • Kendali AI: Mengoperasikan satelit menggunakan kecerdasan buatan untuk menggantikan peran operator manusia secara penuh.
  • Konstelasi Mandiri: Setiap klien mendapatkan akses eksklusif ke 5 hingga 15 satelit pribadi.
  • Komponen Teruji: Menggunakan komponen server standar Bumi yang telah diperkuat (hardened) agar tahan radiasi ruang angkasa.
  • Efisiensi Peluncuran: Memanfaatkan biaya peluncuran roket SpaceX yang semakin terjangkau dan jadwal yang rutin.

Bhatti juga mencatat bahwa relaksasi regulasi dari pemerintah Amerika Serikat membantu mempercepat proses perizinan. "Banyak hambatan yang dulunya harus kami lalui kini sudah hilang, dan itu disambut baik oleh semua orang di industri ini," tambahnya tanpa merinci detail regulasi yang dimaksud.

Tantangan Sampah Antariksa dan Privasi

Meskipun peluang bisnis terbuka lebar, Basalt Space menghadapi tantangan besar terkait keberlanjutan pasar. Beberapa startup satelit sebelumnya gagal mendapatkan volume pelanggan yang diharapkan dari sektor data perubahan iklim. Sebagian besar klien saat ini masih didominasi oleh sektor militer, yang memicu kekhawatiran akan peningkatan pengawasan (surveillance) dari ruang angkasa.

Saat ini terdapat sekitar 15.000 satelit yang mengorbit Bumi. Angka ini diprediksi melonjak empat hingga lima kali lipat pada tahun 2030. Lonjakan jumlah objek ini memicu protes dari aktivis lingkungan terkait sampah antariksa dan polusi cahaya yang mengganggu pengamatan astronomi.

Max Bhatti tetap optimis bahwa transparansi data adalah kunci kebenaran di masa konflik. Ia mencontohkan pembatasan akses data di Timur Tengah oleh penyedia satelit lain sebagai alasan kuat mengapa perusahaan membutuhkan konstelasi mandiri. "Tidak ada yang bisa memotong antrean Anda. Tidak ada yang bisa mematikan aliran data Anda," tegas Bhatti.

Relevansi bagi Industri Strategis di Indonesia

Kehadiran layanan satelit kustom seperti Basalt Space memiliki potensi besar jika diadopsi di Indonesia, terutama untuk pengawasan wilayah maritim dan perkebunan sawit yang luas. Dengan memiliki konstelasi sendiri, instansi pemerintah atau perusahaan swasta nasional bisa memantau aktivitas ilegal di perairan tanpa bergantung pada penyedia asing yang rentan terhadap intervensi kebijakan luar negeri.

Hingga saat ini, sebagian besar kebutuhan citra satelit resolusi tinggi di Indonesia masih dipasok oleh vendor global. Model "sewa konstelasi" ini bisa menjadi alternatif lebih murah dibandingkan harus membangun dan meluncurkan satelit sendiri dari nol, yang memakan waktu bertahun-tahun dan biaya triliunan rupiah.

Persaingan di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit) dipastikan semakin sengit. Keberhasilan Basalt Space akan bergantung pada seberapa efektif AI mereka mengelola ribuan satelit tanpa menciptakan risiko tabrakan di ruang angkasa yang semakin sesak.

Bagikan
Sumber: ired.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks