JAMBI — Fenomena dentuman yang terdengar di Bandung dan beberapa daerah Jawa Barat akhir pekan lalu memicu beragam spekulasi di media sosial. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengaitkan peristiwa ini dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.
Menurut Rita, erupsi bertipe freatik yang terjadi pada gunung tersebut melepaskan energi akustik dalam skala besar. Energi inilah yang kemudian menjalar hingga jarak ratusan kilometer dan akhirnya terdengar sebagai dentuman di Cekungan Bandung.
Mengapa Suara Erupsi Bisa Terdengar hingga Bandung?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa dentuman tersebut merupakan hasil konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi sangat rendah atau infrasound. Gelombang ini merambat melalui lapisan troposfer dan stratosfer.
Proses perambatannya tidak lurus. Gelombang terperangkap dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradien temperatur dan geseran angin (wind shear). Kondisi ini membuat suara "melompati" wilayah dekat gunung dan jatuh tepat di area yang lebih jauh seperti Bandung.
"Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradien temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung," ungkap Daryono.
Kenapa Kaca Jendela Bergetar tapi Tidak Ada Gempa?
Daryono menambahkan, gelombang tekanan yang tiba di permukaan memicu getaran resonansi mekanis pada struktur ringan seperti kaca jendela. Proses ini sama sekali tidak melibatkan propagasi gelombang seismik tanah, sehingga warga merasakan getaran tanpa adanya indikasi gempa bumi.
Bentuk topografi Cekungan Bandung yang dikelilingi pegunungan memperkuat efek ini. Wilayah tersebut berperan sebagai rongga akustik (acoustic cavity) yang memantulkan kembali dan mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik secara lokal.
PVMBG Belum Pastikan Penyebab Final
Meski penjelasan ilmiah ini cukup kuat, Rita menegaskan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti dentuman tersebut. Faktor atmosfer seperti perbedaan temperatur, arah, dan kecepatan angin disebutnya sangat memengaruhi pola perambatan suara.
"Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," jelas Rita, melansir Detik (5/9).
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi. PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan perkembangan fenomena akustik ini melalui stasiun pengamatan yang tersebar di sekitar Selat Sunda.