TEBO — Rombongan Pemprov Jambi dan Kementerian Kehutanan menyusuri dua titik konservasi dalam sehari. Selain melihat area pakan gajah, Al Haris dan Raja Juli Antoni berdialog dengan warga yang selama ini hidup berdampingan dengan satwa dilindungi itu.
Di Tebo, keduanya meninjau area pakan serta lokasi konservasi dan perawatan gajah di TWA Bulu Hitam. Petugas setempat menyiapkan tanaman rumput sebagai sumber pakan harian satwa.
Al Haris Apresiasi Perawatan Gajah di Tebo
Gubernur menilai pengelolaan konservasi di Tebo berjalan baik. Ia menyoroti upaya petugas yang tidak hanya merawat gajah, tetapi juga memberi edukasi kepada masyarakat sekitar.
"Teman-teman di Tebo luar biasa merawat gajah-gajah kita. Mulai dari menanam rumput untuk makanan gajah, merawatnya, sampai memberikan edukasi kepada masyarakat," kata Al Haris.
Populasi gajah di sejumlah kawasan Jambi tercatat cukup banyak. Kondisi itu membuat sebagian satwa masuk ke lahan warga dan menimbulkan gangguan.
Warga Keluhkan Gajah Masuk ke Lahan
Menhut menyerap langsung aspirasi masyarakat soal keberadaan gajah liar. Keluhan utama warga adalah satwa yang masuk dan merusak lahan pertanian mereka.
"Tadi kami, beliau (Menhut) juga menyerap aspirasi masyarakat tentang kondisi-kondisi perkembangan gajah yang luar biasa jumlahnya itu. Dan juga sebagian juga ada yang mengganggu lahan masyarakat," ujar Al Haris.
Persoalan ini menjadi perhatian karena konflik antara gajah dan warga berpotensi meningkat seiring bertambahnya populasi satwa.
Bujang Raba Jadi Contoh Pengelolaan Hutan oleh Warga
Rombongan kemudian bergerak ke Hutan Lindung Bujang Raba di Bungo. Di lokasi ini, Al Haris dan Menhut melihat bagaimana masyarakat menjaga kawasan hutan sekaligus melindungi aliran sungai dan Lubuk Larangan.
Menurut Al Haris, warga Bujang Raba tidak hanya mempertahankan tutupan hutan. Mereka juga menjaga kelestarian sungai dan lingkungan di sekitarnya.
"Ini luar biasa. Kami kaget melihat bagaimana warga menjaga hutan, menjaga sungai dan Lubuk Larangan. Ini menjadi contoh yang luar biasa," ujarnya.
Desa Rawan Karhutla Diusulkan Jadi Hutan Desa
Pengalaman dari Bujang Raba akan menjadi bahan evaluasi Pemprov Jambi. Al Haris menyebut pihaknya ingin memperkuat perlindungan hutan di daerah lain, terutama desa-desa di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.
Ke depan, Pemprov Jambi akan mengusulkan sejumlah desa rawan karhutla untuk dikembangkan menjadi hutan desa. Konsep itu diharapkan mendorong warga ikut menjaga hutan sekaligus mencegah kerusakan lingkungan.
"Ke depan kita akan coba mengajukan desa-desa yang rawan karhutla untuk dijadikan hutan desa. Jadi masyarakat menjaga hutannya dengan baik, sungainya bagus dan karhutla tidak ada," kata Al Haris.