JAMBI — Rangkaian kebakaran lahan yang melanda sebagian wilayah Kalimantan Tengah kali ini membawa korban dari kelompok satwa dilindungi. Dua individu orangutan terpaksa bertahan di pucuk sebuah pohon saat area di sekelilingnya telah berubah menjadi hamparan hangus, abu, dan sisa dedaunan yang terbakar.
Api Memutus Rute Lari Menuju Hutan yang Lebih Aman
Lokasi kejadian berada di Sampit, kawasan yang kerap menjadi titik rawan kegaaraman lahan pada musim kemarau. Akibat cepatnya perambatan api, induk orangutan tidak sempat membawa anaknya menjauh dari area terdampak. Keduanya akhirnya hanya memiliki satu pilihan: bertahan di dahan pohon terakhir yang belum ikut dilalap api.
Kondisi itu memicu pergerakan cepat dari para pemerhati satwa dan aparat. Tim lapangan OFI yang sehari-hari memantau populasi orangutan dan aktivitas ilegal di kawasan konsesi maupun hutan lindung langsung berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Tengah.
Evakuasi Lewat Jalan Darat dan Pemantauan Tegang
Petugas gabungan bergerak ke titik koordinat menggunakan kendaraan roda dua dan jalan kaki menyusuri area yang sudah tak lagi hijau. Suhu di sekitar lokasi masih tinggi, dan tiang-tiang asap tipis tampak mengepul dari beberapa titik bekas terbakar.
Dari kejauhan, tim melihat dua ekor orangutan berpelukan di cabang utama pohon. Si induk terlihat kelelahan, sementara anaknya menggenggam erat tubuh sang ibu. Dengan pendekatan hati-hati dan peralatan evakuasi minim, petugas berhasil menurunkan keduanya dari pohon tanpa perlawanan berarti. Setelah pemeriksaan awal, kedua satwa itu diserahkan ke BKSDA untuk pendataan dan perawatan sementara.
Raya dan Rayu Jadi Identitas Baru dalam Perawatan Petugas
Induk orangutan yang selamat diketahui berusia sekitar 20 tahun dan masih berada dalam usia produktif. Anaknya berjenis kelamin jantan dengan perkiraan umur satu tahun. Penamaan Raya untuk induk dan Rayu untuk anak diberikan sebagai penanda bahwa keduanya kini menjadi bagian dari individu yang dipantau resmi instansi konservasi.
Belum ada keterangan resmi mengenai lamanya masa pemulihan atau apakah keduanya akan langsung dikembalikan ke habitat alami. Keputusan tersebut umumnya menunggu hasil pemeriksaan kesehatan lebih lanjut serta kajian kelayakan lokasi pelepasliaran.
Sinyal Darurat Habitat yang Kian Menyempit
Peristiwa di Sampit menjadi pengingat kasar tentang dampak langsung kebakaran lahan terhadap satwa liar yang wilayah jelajahnya semakin menyempit. Bukan kali ini saja orangutan ditemukan dalam keadaan terjebak; laporan serupa kerap muncul di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat saat musim kemarau tiba.
Upaya pemadaman berbasis darat dan udara memang telah diperkuat dalam beberapa tahun terakhir. Namun nyawa satwa langka tidak bisa semata-mata menunggu air hujan atau bantuan manusia. Diperlukan pengawasan lahan yang lebih ketat sejak dini, terutama di titik-titik yang berbatasan langsung dengan habitat orangutan.