JAMBI — Washington secara resmi memperluas sanksi terhadap Iran dan menargetkan pihak-pihak yang disebut sebagai "enablers"—negara atau entitas yang terus berbisnis dengan Teheran di tengah konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan. Meski rincian teknis penegakan hukum belum diumumkan, ancaman ini langsung menyasar tiga negara dengan hubungan dagang terbesar dengan Iran: Cina, Uni Emirat Arab (UEA), dan Turki.
Cina: Pembeli Utama Minyak Iran yang Terjepit Kepentingan
Cina menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Berdasarkan data Komisi Peninjauan Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok, nilai perdagangan bilateral resmi kedua negara mencapai US$9,96 miliar pada 2025. Namun angka itu belum termasuk impor minyak mentah Iran yang tidak dilaporkan, yang nilainya diperkirakan tembus US$31,2 miliar.
Sebagian besar minyak tersebut diserap oleh kilang-kilang independen Cina dan sering kali dilabeli ulang sebagai minyak mentah asal Malaysia atau Indonesia. Transaksi pembayarannya pun diselesaikan melalui perantara di luar sistem dolar AS. Departemen Keuangan AS sebenarnya telah menjatuhkan sanksi kepada beberapa kilang tersebut tahun ini, tetapi belum menyentuh lembaga keuangan milik negara Cina.
Beijing secara terbuka menolak sanksi sepihak AS. Pada Mei lalu, pemerintah Cina bahkan memerintahkan perusahaan domestik untuk mengabaikan sanksi Washington terhadap lima kilang yang terkait perdagangan minyak Iran. Namun Dan Wang, direktur wilayah Cina di Eurasia Group, menilai sikap keras itu tidak akan bertahan lama.
"Otoritas Tiongkok lebih mementingkan akses dolar dalam pembiayaan serta akses pasar ke AS," ujarnya. Wang memperkirakan Beijing akan "diam-diam meningkatkan kepatuhan" di kalangan bank milik negara dan perusahaan minyak agar tidak ikut terkena sanksi, menciptakan dikotomi antara pernyataan resmi dan praktik di lapangan.
UEA: Pusat Perbankan Bayangan Iran di Dubai
UEA, yang hanya berjarak 50 mil dari Iran di seberang Teluk Persia, menjadi jalur utama Teheran mengakses ekonomi global. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$28 miliar pada 2024, menjadikan UEA sebagai sumber impor terbesar Iran dengan kontribusi lebih dari 30%.
Namun hubungan itu baru saja mengalami guncangan. Pekan lalu, UEA menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran setelah dua rudal balistik diluncurkan ke arah wilayahnya, salah satunya menargetkan kapal tanker milik UEA. Langkah ini diambil di tengah tekanan AS yang menilai Dubai sebagai pusat aktivitas transshipment, penyelundupan, dan shadow banking Iran.
Matthew Levitt, mantan pejabat Departemen Keuangan AS, mengatakan Washington perlu melakukan pendekatan berbeda terhadap dua kekuatan politik di UEA. "Sebagian besar aktivitas transshipment, penyelundupan, dan shadow banking Iran terjadi di Dubai. Oleh karena itu, Washington harus berupaya membantu para pemimpin nasional UEA di Abu Dhabi untuk meyakinkan dan membujuk para pemimpin Dubai agar mau bekerja sama," tulisnya.
Turki dan Irak: Ketergantungan Energi yang Rumit
Turki berada dalam posisi sulit. Negara ini mengimpor gas alam dari Iran dan mengekspor barang manufaktur ke negara tersebut. Perdagangan bilateral keduanya tercatat US$5,7 miliar pada 2024, dengan pangsa gas Iran mencapai 18,6% dari total impor gas alam Turki tahun ini—melonjak signifikan meski kontrak pasokan 25 tahun keduanya telah berakhir pada akhir Juli.
Ankara sebenarnya berupaya diversifikasi ke pemasok lain seperti Azerbaijan dan Rusia, tetapi sejauh ini belum menunjukkan niat menghentikan pasokan dari Iran.
Sementara itu, Irak yang bergantung pada listrik dan gas Iran juga berada di garis depan. Pada Maret 2024, Iran memperbarui kontrak pasokan energi ke Baghdad, menegaskan posisi Irak sebagai salah satu mitra dagang terbesar Teheran di kawasan. Belum ada pernyataan resmi dari Baghdad mengenai dampak sanksi terbaru AS terhadap kelangsungan impor energinya.
Risiko ke Pasar dan Pelaku Bisnis
Perluasan sanksi ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan menaikkan harga minyak mentah di pasar internasional. Bagi pelaku bisnis Indonesia, dampaknya bisa terasa melalui fluktuasi harga komoditas energi serta ketidakpastian nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Investor perlu mencermati perkembangan diplomasi AS-Cina dan AS-UEA dalam beberapa pekan ke depan. Jika Washington benar-benar menindak lembaga keuangan Cina, risiko perlambatan perdagangan global meningkat. Sebaliknya, jika negosiasi berujung pada kepatuhan diam-diam dari Beijing, dampaknya terhadap pasar bisa lebih terbatas. Investasi mengandung risiko.