JAKARTA — Rupiah dibuka melemah 0,09 persen ke posisi Rp18.099 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp18.083. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari laporan serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Serangan Rudal Iran ke Pangkalan Militer AS
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pada Selasa (28/7) bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Media lokal melaporkan rudal tersebut diarahkan ke pangkalan militer AS di Yordania.
Ketegangan antara kedua negara meningkat dalam beberapa pekan terakhir. AS melakukan serangan terhadap Iran yang kemudian dibalas dengan penargetan fasilitas dan peralatan militer AS di negara-negara Teluk.
Harga Minyak Melonjak, The Diprediksi Hawkish
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, dengan harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timteng,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Sentimen lain datang dari agenda Federal Open Market Committee (FOMC) yang diprediksi bakal mempertahankan suku bunga. Namun, pasar mengantisipasi pernyataan hawkish dari Kepala The Fed terkait harga minyak yang kembali naik tinggi.
“Pernyataan hawkish yang mungkin disampaikan seputar harga minyak dunia yang kembali naik tinggi, dan dikhawatirkan bakal kembali memicu kenaikan pada inflasi di AS,” kata Lukman.
Sentimen Domestik: Mundurnya Perry Warjiyo
Dari dalam negeri, sentimen negatif juga membayangi rupiah. Pasar bereaksi atas pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Analis memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang hari ini. Pergerakan masih sangat tergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan hasil rapat The Fed.