JAMBI — Harga Bitcoin menembus US$86.349 per keping, level tertinggi sejak akhir Januari, melanjutkan reli tajam dalam sepekan terakhir. CIO Bitwise Matt Hougan menilai tekanan panjang pasar kripto sudah berakhir dan menyebut fase sekarang sebagai crypto spring.
Reli Bitcoin berlanjut pada perdagangan Senin (21/9) setelah sempat menyentuh level US$86.349 per koin. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak akhir Januari, menandai pemulihan bertahap dari tekanan yang berlangsung sejak rekor puncak di atas US$126.000 pada Oktober 2025.
Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin melonjak lebih dari 8 persen. Dalam tiga bulan terakhir, kenaikannya mencapai 34 persen. Meski begitu, posisi terkini masih jauh di bawah rekor tertinggi yang pernah dicapai.
Fundamental Menguat saat Harga Tertekan
CIO Bitwise Matt Hougan menilai pergerakan harga tidak mencerminkan perbaikan yang terjadi di sisi fundamental. Jumlah transaksi di berbagai blockchain meningkat, sementara keterlibatan perusahaan besar seperti BlackRock ikut mengerek infrastruktur pasar aset digital.
"Menurut saya, kita berada dalam situasi yang tidak biasa ketika harga turun secara siklus, sementara fundamentalnya justru membaik secara struktural. Saya mempekirakan harga akan mengejar peningkatan fundamental tersebut menjelang akhir tahun," kata Hougan kepada CNBC dalam program Squawk Box Europe.
Hougan menyimpulkan tekanan panjang yang dimulai setelah puncak Oktober 2025 telah usai. Ia menyebut fase sekarang sebagai crypto spring, periode pemulihan setelah crypto winter.
"Saya memang berpikir ini sudah berakhir. Ini adalah crypto spring, bunga krokus mulai bermekaran," ujarnya. "Saya pikir ini justru akan menjadi pasar bullish terkuat dan terpanjang dalam sejarah kripto."
Target Teknis BTIG dan Pergerakan Saham Kripto
Analis BTIG menilai selama harga Bitcoin mampu bertahan di atas level US$75.000, ruang kenaikan masih terbuka menuju US$82.000 hingga US$90.000. Proyeksi itu disampaikan pekan lalu (20/9).
Saham-saham yang berkaitan dengan kripto ikut menguat dalam perdagangan kemarin, termasuk Strategy dan Coinbase. Pergerakan itu memperkuat sinyal kembalinya minat investor ke sektor aset digital.
Clarity Act Gagal Lolos, Regulasi AS Tetap Pro-Kripto
Senat Amerika Serikat pekan lalu memblokir Clarity Act, undang-undang yang dirancang membentuk kerangka regulasi kripto dan membagi pengawasan industri antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Kegagalan itu tidak serta-merta menjadi kabar buruk. Hougan menilai SEC dan CFTC yang kini menetapkan aturan justru punya sikap lebih akomodatif terhadap industri kripto dibanding periode sebelumnya.
"Ini adalah SEC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS; ini juga CFTC yang paling pro-kripto dalam sejarah AS. Jadi, secara ironis, tanpa disahkannya Clarity Act, kita mungkin justru mendapatkan regulasi yang lebih pro-kripto," kata Hougan.
Regulasi yang lebih jelas sebelumnya, seperti Genius Act yang disahkan tahun lalu, telah menjadi pendukung harga aset kripto. Untuk sementara, SEC dan CFTC memegang kendali penetapan aturan bagi industri tersebut.
Dana Berputar dari Saham AI ke Kripto
Hougan menyebut perputaran dana investor mulai terlihat. Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) sebelumnya menyerap perhatian besar investor yang berorientasi momentum.
"Ledakan investasi AI sebelumnya telah menyedot seluruh oksigen dari ruangan," ujarnya. "Sekarang ketika tren itu mulai mereda, kita melihat dana tersebut berputar kembali ke kripto."
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin kerap menjadi acuan tidak langsung bagi aset kripto lokal yang diperdagangkan di bursa berjangka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini memegang mandat pengawasan aset kripto setelah dialihkan dari Bappebti, dengan kerangka aturan yang masih dalam tahap penyempurnaan.