JAKARTA — Pasar valuta asing domestik kembali bergolak. Rupiah ditutup melemah 46 poin (0,26 persen) ke posisi Rp18.009 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp17.963. Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Capai 78 Persen
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah utamanya berasal dari sikap hawkish The Fed. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada pertengahan September 2026.
“Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish,” ujar Ibrahim kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Adapun pada pertemuan rutin 28-29 Juli 2026, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah. Keputusan ini dinilai pasar sebagai jeda sementara sebelum kembali mengetatkan kebijakan moneter.
Konflik Timur Tengah Perparah Tekanan Eksternal
Selain faktor suku bunga, pelemahan rupiah juga dipicu oleh gangguan rantai pasok global. Ketegangan antara AS dengan Iran serta konflik antara Houthi Yaman dan Arab Saudi menyebabkan perlambatan lalu lintas kapal pengangkut komoditas di dua jalur strategis dunia, Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Perlambatan arus barang ini berpotensi mendongkrak harga energi dan bahan baku impor, yang pada akhirnya menekan nilai tukar negara pengimpor seperti Indonesia.
Transisi Kepemimpinan BI Jadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati dinamika di Bank Indonesia. Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI turut mewarnai pergerakan rupiah. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti kini ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga mencatat pelemahan, berada di level Rp17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.973 per dolar AS. Selisih antara kurs JISDOR dan kurs pasar spot menunjukkan tekanan jual yang masih berlangsung di pasar valas domestik.