Pencarian

Kandungan Bakteri Coli di Sungai Batanghari Tebo Melebihi Baku Mutu, DLH-Hub Ungkap 3 Titik Tercemar Ringan

Minggu, 19 Juli 2026 • 21:57:01 WIB
Kandungan Bakteri Coli di Sungai Batanghari Tebo Melebihi Baku Mutu, DLH-Hub Ungkap 3 Titik Tercemar Ringan
Hasil uji laboratorium menunjukkan tiga titik sampel air Sungai Batanghari di Tebo tercemar ringan oleh bakteri fecal coliform.

MUARATEBO — DLH-Hub Kabupaten Tebo merilis hasil pemantauan kualitas air Sungai Batanghari tahun 2025 yang menunjukkan adanya pencemaran bakteri fecal coliform di sejumlah titik. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH-Hub Tebo, Deriansyah, menyatakan bahwa parameter bakteri tersebut menjadi satu-satunya indikator yang masih melebihi baku mutu di sungai kelas II itu.

"Parameter yang masih menjadi perhatian adalah fecal coliform atau bakteri coli yang masih terdeteksi melebihi baku mutu di Sungai Batanghari," ujar Deriansyah saat dikonfirmasi, Selasa (20/8/2025).

Tiga dari Empat Titik Sampel Alami Pencemaran Ringan

Pengambilan sampel dilakukan di empat titik yang mewakili aliran sungai di wilayah Tebo. Dua titik berada di Kecamatan VII Koto, yakni Desa Teluk Kayu Putih dan Desa Teluk Kepayang. Dua titik lainnya adalah Desa Teluk Singkawang di Kecamatan Sumay serta Desa Teluk Rendah Ilir di Kecamatan Tebo Ilir.

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kualitas air di Desa Teluk Kayu Putih masih memenuhi standar. Namun, tiga titik lainnya—Teluk Kepayang, Teluk Singkawang, dan Teluk Rendah Ilir—terindikasi tercemar ringan akibat tingginya kandungan bakteri coli. Meski demikian, untuk parameter Total Suspended Solids (TSS) atau tingkat kekeruhan, seluruh titik sampel masih berada dalam batas wajar untuk sungai kelas II.

Air Sungai Tak Bisa Langsung Dikonsumsi

Deriansyah menegaskan bahwa klasifikasi Sungai Batanghari sebagai sungai kelas II memiliki konsekuensi terhadap pemanfaatannya. Air dari sungai ini tidak dapat langsung dikonsumsi sebagai air minum tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. "Airnya harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi masyarakat. Peruntukannya memang bukan sebagai air minum secara langsung," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa dari hasil pemantauan selama ini, belum ditemukan indikasi pencemaran akibat zat kimia berbahaya. "Sejauh ini belum ada pencemaran yang disebabkan oleh zat kimia yang terdeteksi," ungkapnya.

Hasil Uji Tahun 2026 Masih Menunggu Laboratorium Jakarta

Untuk pemantauan tahun 2026, DLH-Hub Tebo telah melakukan pengambilan sampel pada April lalu di empat titik yang sama. Sampel tersebut dikirim ke Laboratorium Mutu Agung yang terakreditasi di Jakarta untuk dianalisis. Namun, hasilnya hingga kini belum diterima karena proses pengujian dilakukan secara serentak dengan sampel dari berbagai daerah di Indonesia.

"Pengambilan sampel dilakukan langsung oleh petugas laboratorium yang terakreditasi. Sampelnya dibawa ke Jakarta untuk diuji. Karena dilakukan serentak dari seluruh Indonesia, hasilnya biasanya baru keluar sekitar dua sampai tiga bulan," tutup Deriansyah.

Bagikan
Sumber: jambiindependent.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks