Pencarian

BYD Raup Laba Rp 19,7 Triliun di Kuartal II 2025, Ekspor Jadi Penyelamat di Tengah Perang Harga China

Minggu, 30 Agustus 2026 • 00:44:31 WIB
BYD Raup Laba Rp 19,7 Triliun di Kuartal II 2025, Ekspor Jadi Penyelamat di Tengah Perang Harga China
BYD membukukan laba bersih Rp19,7 triliun pada kuartal II 2025, ditopang pengiriman ekspor sebanyak 471.091 unit.

JAMBI — Setelah sempat anjlok 55,4 persen pada kuartal I 2025, pabrikan asal Shenzhen ini akhirnya menarik napas lega. Pengiriman ke luar negeri mencapai 471.091 unit hanya dalam tiga bulan, nyaris setara 47 persen dari total penjualan kuartal tersebut. Pasar Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin menjadi motor utama pertumbuhan.

Namun, kinerja semester pertama secara keseluruhan masih terkoreksi. Pendapatan BYD turun 7,13 persen menjadi 344,82 miliar yuan (sekitar Rp 828 triliun), sementara laba bersih yang diatribusikan ke pemegang saham merosot 20,54 persen menjadi 12,33 miliar yuan. Perusahaan menyebut pelemahan bisnis kendaraan energi baru (NEV) domestik dan kerugian selisih kurs sebagai biang keladinya.

Margin Kuat Berkat Penjualan ke Luar Negeri

Yang menarik, margin kotor BYD justru membaik. Pada semester I 2025, margin naik ke 18,85 persen dari 18,01 persen tahun sebelumnya, meski laba kotor turun tipis 2,81 persen menjadi 64,99 miliar yuan. Artinya, mobil yang dijual di luar China memberi untung lebih besar dibandingkan volume hasil perang harga di dalam negeri.

Penopang lain datang dari merek premium. Penjualan Denza, Fang Cheng Bao, dan Yangwang melonjak 61 persen dan kini menyumbang 12,8 persen dari total penjualan kendaraan penumpang. Segmen ini menjadi andalan baru yang tidak terseret perang diskon.

Perang Harga Masih Menekan Pasar Domestik

Di pasar domestik, BYD masih menghadapi kompetisi yang brutal. Pemerintah Beijing bahkan mulai menekan para pabrikan untuk menghentikan "involution" — istilah untuk perang harga tanpa henti yang menggerus margin seluruh industri. Penjualan NEV BYD di dalam negeri sempat terjun 30,01 persen pada kuartal I, meski membaik menjadi minus 3,24 persen di kuartal II.

Di tengah tekanan itu, BYD tetap agresif belanja riset. Investasi litbang semester I mencapai 28,9 miliar yuan — sekitar 2,3 kali lipat laba bersihnya — sehingga akumulasi belanja riset kini menembus 270 miliar yuan. Arus kas operasional juga naik 17,3 persen menjadi 37,34 miliar yuan.

Ekspor Juli Cetak Rekor, Target 1,5 Juta Unit pada 2026

Momentum positif berlanjut memasuki paruh kedua. Juli 2025 mencatat penjualan 419.211 unit, tumbuh 21,76 persen dibanding tahun lalu, sekaligus menjadi bulan ketiga beruntun dengan pertumbuhan. Ekspor kendaraan penumpang dan pikap menyentuh rekor 179.841 unit, naik 124,3 persen dan mewakili sekitar 43 persen dari total penjualan bulanan.

BYD dikabarkan membidik ekspor 1,5 juta unit pada 2026. Ambisi itu memang realistis mengingat kapasitas produksi dan jaringan distribusi yang terus diperluas. Namun ada konsekuensi yang harus dibayar: perputaran persediaan melambat dari 79 hari menjadi 109 hari karena ribuan unit menghabiskan waktu berhari-hari di atas kapal laut.

Perbandingan dengan Tesla dan Risiko ke Depan

Dari sisi volume, BYD masih kokoh di posisi puncak. Pada kuartal II, pabrikan China ini mengirim 557.090 mobil listrik murni, jauh di atas Tesla yang mencatat 480.126 unit. Keduanya sama-sama mengandalkan pasar luar negeri dan sama-sama tertekan marginnya.

Bagi pembeli di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Ekspansi global BYD berpotensi mempercepat kehadiran model-model baru di pasar lokal, termasuk dari lini premium. Namun fluktuasi kurs dan kebijakan tarif di kawasan Eropa tetap menjadi variabel yang bisa mengubah arah strategi ekspansi mereka.

Follow jambitime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks