JAMBI — Kolaborasi lintas sektor ini dihadiri langsung Kepala Dinas PUTR Provinsi Jambi, Muzakir, S.Pd., M.Si., beserta jajaran pejabat eselon III dan sejumlah undangan. Hesti Haris, sapaan akrab Hesnidar, menyebut keterlibatan dinas teknis ini menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan dasar yang menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.
Enam SPM dan Peran Baru Posyandu
Hesti menjelaskan, perluasan fungsi posyandu tidak lagi terbatas pada layanan kesehatan ibu dan anak. Sektor pekerjaan umum dan perumahan kini menjadi salah satu pilar yang dibahas dalam forum rutin tersebut.
"Kalau dulu kita lihat Posyandu ini hanya kesehatan, sekarang Posyandu sudah enam SPM, enam pelayanan dasar. Di antaranya kesehatan, termasuk perumahan," ujarnya dalam kegiatan yang digelar di Sekretariat TP PKK Provinsi Jambi itu.
Menurutnya, diskusi yang dibangun bersama Dinas PUTR bertujuan menyelaraskan program agar informasi seputar infrastruktur dan hunian layak dapat tersampaikan hingga ke tingkat ranting posyandu.
Musim Kemarau: Imbauan Soal Karhutla dan Air Bersih
Di sela-sela penguatan sinergi, Hesti menyampaikan sejumlah imbauan krusial menyusul masuknya musim kemarau. Ia meminta warga, khususnya di kawasan perkebunan dan permukiman, untuk tidak membakar sampah sembarangan karena kondisi lahan yang kering sangat rawan memicu kebakaran.
"Bapak-bapak jangan membakar sampah sembarangan. Kita di kebun, di kampung, hati-hati membakar walaupun sedikit, karena itu rawan sekali. Semuanya sudah kering, lahan-lahan sudah kering," imbaunya.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan air dilakukan secara bijak. Hesti mengaku banyak menerima laporan warga yang aliran air PDAM-nya mulai terganggu.
"Bijak menggunakan air. Walaupun di rumah kita lancar, mungkin di ujung atau sektor rumah tangga yang lain sudah tidak mengalir lagi," ungkapnya.
Antisipasi Dampak Kabut Asap bagi Balita
Hesti turut menyoroti kualitas udara yang mulai dipengaruhi debu dan asap. Keluarga dengan balita dan anak-anak diminta memperbanyak konsumsi air putih serta membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak.
"Anak-anak kita banyak minum air bersih, jaga kesehatan. Kalau tidak perlu, apalagi balita, jangan keluar rumah dulu. Ini sudah mulai debu, asap," katanya.
Menyoal wacana peliburan sekolah akibat kabut asap, Hesti menegaskan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan pihak berwenang berdasarkan pemantauan di lapangan. Ia memastikan akan mengikuti instruksi resmi apabila kondisi benar-benar memburuk.
"Untuk kebijakan tidak sekolah, tentu harus sesuai dengan hasil dan petunjuk dari yang ahlinya. Kalau memang kondisinya harus diliburkan, ya diliburkan," pungkasnya.