Pencarian

BKSDA Jambi dan Konsorsium PROTECT30 Tinjau Habitat Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh, Jerat Listrik Jadi Ancaman

Kamis, 27 Agustus 2026 • 00:27:02 WIB
BKSDA Jambi dan Konsorsium PROTECT30 Tinjau Habitat Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh, Jerat Listrik Jadi Ancaman
BKSDA Jambi bersama konsorsium PROTECT30 meninjau habitat gajah Sumatera di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi, Rabu (tanggal).

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi bersama konsorsium PROTECT30 meninjau langsung upaya perlindungan habitat gajah Sumatera di Lanskap Bukit Tigapuluh, kawasan strategis yang membentang di Provinsi Jambi dan Riau. Kunjungan ini menjadi bagian dari pemantauan program sekaligus respons atas temuan jerat listrik yang berpotensi memutus konektivitas ruang jelajah gajah.

JAMBI — Kepala BKSDA Jambi, Himawan, menegaskan perlindungan gajah Sumatera tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, habitat dan ruang jelajah satwa dilindungi itu harus dipandang sebagai satu kesatuan lanskap yang utuh.

“Melalui kunjungan ini, kami ingin memastikan bahwa kegiatan di lapangan berjalan sesuai kebutuhan konservasi serta didukung dengan koordinasi dan pemantauan yang baik,” ujar Himawan di Jambi, Rabu.

Luas Habitat dan Estimasi Populasi Gajah

Lanskap Bukit Tigapuluh memiliki luas habitat strategis sekitar 600.605 hektare. Kawasan ini menjadi rumah bagi estimasi 90 hingga 120 individu gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) yang tersebar di wilayah administrasi Jambi dan Riau.

Angka tersebut menjadikan lanskap ini memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan populasi gajah dan keseimbangan ekosistem pendukungnya di Pulau Sumatera.

Jerat Listrik dan Okupasi Lahan Mengancam Ruang Jelajah

Sejak 2022, BKSDA Jambi mengidentifikasi sejumlah hambatan pada jalur pergerakan gajah menuju habitat inti. Perubahan tutupan dan penggunaan lahan disebut mempengaruhi pola pergerakan satwa berukuran besar tersebut.

Temuan di lapangan menunjukkan meningkatnya okupansi lahan oleh aktivitas manusia serta adanya jerat listrik di beberapa area. Kondisi ini mempersempit ruang jelajah dan berpotensi memutus konektivitas antarhabitat.

Akibatnya, pergerakan gajah ke luar kawasan hutan meningkat. Situasi ini berpotensi memicu interaksi negatif dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lanskap.

Peran Konsorsium PROTECT30 dalam Pengelolaan Lanskap

Menjawab tantangan tersebut, inisiatif PROTECT30 atau Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in Bukit Tigapuluh Landscape digulirkan. Konsorsium ini terdiri dari APP Group, KKI Warsi, Proforest, dan WWF Indonesia.

Mereka berkolaborasi dengan BKSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, serta pemangku kepentingan lainnya. Ruang lingkup program mencakup perlindungan habitat, peningkatan konektivitas lanskap, penguatan tata kelola, dan pengembangan penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat.

Dukungan Pakan untuk Gajah Binaan

Dalam kunjungan lapangan terbaru, tim meninjau langsung penanaman pengayaan pakan gajah di Taman Wisata Alam Buluh Hitam. Kegiatan ini juga mendukung peningkatan ketersediaan pakan bagi gajah binaan BKSDA Jambi.

Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam konservasi. Menurutnya, masa depan konservasi bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk bekerja bersama dalam satu lanskap yang sama.

“Melalui PROTECT30 yang sejalan dengan komitmen Regenesis, kami mendukung pendekatan forest-positive yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta penguatan penghidupan masyarakat,” kata Elim.

Langkah Lanjutan dan Penguatan Data

Program yang mulai diimplementasikan setelah kick-off pada Februari 2026 ini juga mendukung penguatan pengelolaan kawasan bernilai konservasi tinggi bagi gajah Sumatera di Jambi, termasuk wilayah Datuk Gedang.

Ke depan, BKSDA Jambi bersama mitra akan memperkuat koordinasi, pemantauan lapangan, dan pertukaran data. Langkah konservasi yang dilakukan diharapkan terukur, adaptif, dan memberi manfaat jangka panjang bagi kelestarian ekosistem maupun masyarakat di Lanskap Bukit Tigapuluh.

Follow jambitime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks