JAMBI — Kebijakan ini lahir dari instruksi langsung Gubernur Jambi dan difokuskan pada wilayah yang memiliki lahan gambut serta dinilai paling rentan terhadap karhutla. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Muhammad Umar, mengonfirmasi bahwa sebagian sekolah telah lebih dulu melaksanakan kegiatan tersebut.
"Beberapa sekolah sudah melaksanakan itu," ujar Umar di Jambi, Sabtu (22/8/2026).
Ia berharap sekolah lainnya dapat mengikuti langkah serupa sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi kondisi cuaca kering yang masih berpotensi memicu kebakaran lahan.
Empat Kabupaten Jadi Prioritas Imbauan Salat Istisqa
Surat edaran yang diterbitkan Disdik Provinsi Jambi secara khusus menyasar sekolah-sekolah yang berada di kawasan rawan gambut. Empat kabupaten yang menjadi perhatian utama dalam kebijakan ini adalah Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Muaro Jambi, dan Batang Hari.
Wilayah-wilayah tersebut selama ini dikenal memiliki konsentrasi lahan gambut yang luas, sehingga tingkat kerentanannya terhadap karhutla jauh lebih tinggi dibanding daerah lain di Provinsi Jambi.
Luas Lahan Terbakar di Jambi Capai 658 Hektare
Data yang dihimpun periode Januari hingga 16 Agustus 2026 menunjukkan total luas lahan terbakar di wilayah Jambi mencapai sekitar 658,29 hektare. Angka ini menjadi dasar kekhawatiran pemerintah daerah akan meluasnya dampak karhutla jika musim kemarau berkepanjangan.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Jambi untuk tidak hanya mengandalkan upaya teknis di lapangan, tetapi juga melibatkan institusi pendidikan dalam langkah mitigasi berbasis spiritual.
Langkah Antisipasi yang Diminta ke Sekolah
Selain menggelar salat Istisqa, Disdik Jambi meminta pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan melalui sejumlah langkah taktis. Sekolah diminta untuk aktif memantau lingkungan sekitar gedung, terutama area yang berpotensi menjadi titik api.
Kewaspadaan dini ini dinilai penting mengingat lokasi sekolah di daerah gambut kerap dikelilingi lahan kosong yang rawan terbakar. Jika api muncul mendekati area sekolah, proses belajar mengajar bisa terganggu dan mengancam keselamatan siswa.
Imbauan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa musim kemarau tahun ini masih membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, tidak terkecuali lingkungan pendidikan.