Pencarian

IHSG Ditutup Melemah 7,43 Poin ke 6.343,71, Investor Masih Waspadai Ketegangan di Timur Tengah

Kamis, 06 Agustus 2026 • 18:37:01 WIB
IHSG Ditutup Melemah 7,43 Poin ke 6.343,71, Investor Masih Waspadai Ketegangan di Timur Tengah
Petugas memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, dibayangi koreksi bursa saham kawasan Asia dan kekhawatiran investor terhadap situasi geopolitik global. Indeks berakhir di zona merah setelah sempat bertahan di teritori positif sepanjang sesi pertama.

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup turun 7,43 poin atau 0,12 persen ke posisi 6.343,71. Adapun indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan juga terkoreksi lebih dalam, yakni turun 3,13 poin atau 0,49 persen ke level 630,86.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas berada di zona merah. Pelaku pasar disebut masih mencermati perkembangan di Timur Tengah, khususnya terkait situasi di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Kabar Selat Hormuz dan Laut Merah Membayangi Sentimen Investor

Dari mancanegara, Iran mengumumkan kesepakatan dengan Oman mengenai rute pengiriman melalui Selat Hormuz. Langkah ini sempat meningkatkan harapan bahwa lebih banyak ekspor energi dapat mengalir melalui selat strategis tersebut.

Pejabat Iran menyatakan pernyataan bersama tengah diselesaikan dan rute tersebut diperkirakan tetap beroperasi selama dua hingga empat bulan. Namun, mereka menekankan bahwa pengaturan ini tidak membuka kembali Selat secara penuh, sehingga ketidakpastian masih menyelimuti pasar.

“Di sisi lain, pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan ketidakpastian upaya membuka kembali Selat Hormuz, potensi gangguan setelah serangan di laut Merah, yang mana kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim telah menghantam kapal tanker minyak Arab Saudi di perairan utara Laut Merah,” ujar Nico.

Data Tenaga Kerja AS dan Sikap The Fed Jadi Perhatian

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mengamati sikap pejabat Federal Reserve (The Fed) serta rilis data penyerapan tenaga kerja AS yang melambat. Data ekonomi AS mencatat hanya ada penambahan 44.000 pekerjaan sektor swasta pada Juli 2026, atau pertumbuhan terlemah sejak Januari 2026 dan jauh di bawah perkiraan pasar yang sebesar 70.000.

“Pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini, sekarang hanya memperkirakan satu kenaikan hingga akhir tahun, turun dari dua kenaikan pada minggu lalu,” jelas Nico.

Di sisi lain, Gubernur Fed Lisa Cook menegaskan kembali kesiapannya untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak mereda. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap.

Data Ekonomi Domestik Belum Mampu Dongkrak IHSG

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen year on year (yoy) pada kuartal II 2026 yang berada di atas ekspektasi belum mampu mendorong penguatan IHSG. Pelaku pasar masih bersikap selektif terhadap saham-saham yang diperdagangkan.

Indeks disebut belum sepenuhnya ditopang oleh saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing. Pergerakan IHSG lebih banyak digerakkan oleh saham-saham spekulatif.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama. Namun, pada sesi kedua, indeks bergerak ke zona merah hingga lonceng penutupan perdagangan dibunyikan.

Energi Jadi Sektor Paling Perkasa, Kesehatan Terkoreksi

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor berhasil menguat pada perdagangan hari ini. Sektor energi memimpin penguatan dengan naik 1,57 persen, diikuti sektor industri yang menguat 0,91 persen dan sektor transportasi & logistik yang naik 0,71 persen.

Adapun tujuh sektor lainnya ditutup melemah. Sektor barang kesehatan menjadi yang paling dalam koreksinya, yakni turun 0,55 persen, disusul sektor properti yang melemah 0,54 persen dan sektor teknologi yang terkoreksi 0,46 persen.

Saham-saham yang mencatatkan penguatan harga terbesar hari ini antara lain TMPO, PDES, FAST, IATA, dan JGLE. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni TALF, BACH, ROCK, ISAP, dan GPSO.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.661.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 53,47 miliar lembar saham senilai Rp18,15 triliun. Sebanyak 278 saham berhasil naik, 354 saham menurun, dan 331 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini mayoritas ditutup melemah. Indeks Nikkei terkoreksi 0,89 persen ke 65.712,00, Hang Seng melemah 1,49 persen ke 25.530,28, dan Kospi anjlok 4,58 persen ke 6.296,38. Indeks Shanghai justru menguat 0,57 persen ke 3.900,35, sedangkan indeks Kuala Lumpur melemah tipis 0,63 persen ke 1.737,15.

Follow jambitime.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks