JAMBI — Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan luasan terdampak karhutla itu terdiri dari 10 hektare di Watu Gede, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Sebanyak 50 hektare lainnya berada di kawasan Jantur Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Malang.
Kronologi dan Titik Api yang Masih Menyala
Kebakaran pertama kali terdeteksi Senin (3/8) petang. Hingga laporan terbaru dirilis, belum ada korban jiwa dalam insiden ini.
Sebagian titik api di Blok Bantengan hingga Pusung Jantur sempat berhasil dipadamkan. Namun, petugas gabungan masih berjibaku dengan api di sejumlah lokasi lain yang berada di lereng Kaldera Bromo.
“Luasan lahan terdampak karhutla tersebut tersebar di wilayah administratif Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang,” kata Abdul Muhari dalam laporan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Kendala Pemadaman dan Upaya Pemetaan Udara
Medan terjal di sekitar kaldera dan tiupan angin kencang menjadi hambatan utama dalam pemadaman darat. Kondisi ini mempersulit akses petugas menuju pusat api yang berada di area sulit dijangkau.
Untuk mengoptimalkan penanganan, personel BPBD Jawa Timur menerbangkan pesawat nirawak (drone). Alat tersebut digunakan untuk memetakan sebaran titik api, khususnya di jalur antara kaldera hingga tugu perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.
Personel dan Armada yang Dikerahkan
Penanganan darurat dilakukan tim gabungan yang melibatkan BPBD, Balai Besar TNBTS, Polisi Kehutanan (Polhut), serta relawan. Mereka mengerahkan armada pemadam kebakaran (damkar) dan tangki air untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Perhitungan luas lahan terbakar merupakan hasil estimasi sementara petugas di lapangan. BNPB masih terus memantau perkembangan situasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk mempercepat proses pendinginan area terdampak.