JAMBI — Laju inflasi di Provinsi Jambi pada Juli 2026 tercatat sebesar 3,25 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,41. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang masih terjadi di tengah masyarakat, meskipun secara bulanan provinsi ini justru mengalami deflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi melaporkan, secara month to month (m-to-m), terjadi deflasi sebesar 0,06 persen pada Juli 2026. Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,73 persen.
Inflasi Tertinggi di Muara Bungo, Terendah di Kerinci
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, memaparkan disparitas inflasi yang cukup lebar antarwilayah. Inflasi tertinggi terjadi di Muara Bungo yang mencapai 4,21 persen dengan IHK 113,99, sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kerinci sebesar 3,14 persen dengan IHK 115,63.
“Inflasi tertinggi terjadi di Muara Bungo sebesar 4,21 persen dengan IHK sebesar 113,99 dan terendah terjadi di Kabupaten Kerinci sebesar 3,14 persen dengan IHK sebesar 115,63,” ujarnya pada Senin, 3 Agustus 2026.
Perawatan Pribadi dan Transportasi Menyumbang Kenaikan Harga Terbesar
Dari sepuluh kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan tertinggi sebesar 6,35 persen. Disusul kelompok transportasi yang naik 4,73 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,42 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang biasanya menjadi penyumbang utama inflasi juga masih mencatat kenaikan signifikan sebesar 4,24 persen. Kelompok kesehatan menyusul dengan kenaikan 4,18 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 3,00 persen.
Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah pakaian dan alas kaki, yang turun sebesar 4,20 persen.
Nilai Tukar Petani Naik 0,79 Persen
Di tengah tekanan inflasi, petani di Jambi justru menikmati perbaikan kesejahteraan. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada Juli 2026 tercatat sebesar 190,26 atau naik 0,79 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh indeks harga yang diterima petani yang naik 0,91 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang hanya 0,12 persen.
Secara tahunan, NTP Juli 2026 bahkan melonjak 13,35 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga ikut menguat ke angka 193,94, naik 0,65 persen dari bulan sebelumnya.
Ekspor Jambi Turun Tipis, Impor Anjlok Hampir 19 Persen
Dari sektor perdagangan internasional, nilai ekspor asal Provinsi Jambi pada Juni 2026 tercatat US$190,78 juta, turun 2,02 persen dibanding Mei 2026 yang mencapai US$194,72 juta. Singapura, Jepang, Malaysia, India, dan Amerika Serikat menjadi lima negara tujuan ekspor terbesar pada periode tersebut.
Kelompok industri masih mendominasi total ekspor Jambi dengan kontribusi 50,11 persen, diikuti pertambangan sebesar 45,41 persen, dan pertanian 4,49 persen.
Sementara itu, nilai impor Jambi pada Juni 2026 anjlok 18,73 persen menjadi US$9,02 juta, dibanding bulan sebelumnya yang sebesar US$11,09 juta. Tiongkok, Finlandia, Amerika Serikat, Perancis, dan Malaysia menjadi negara asal impor terbesar. Kelompok komoditi mesin dan alat angkutan mendominasi impor dengan porsi 69,27 persen.
Hotel Berbintang Kian Ramai, Tingkat Hunian Naik ke 57,37 Persen
Sektor pariwisata menunjukkan perbaikan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Jambi pada Juni 2026 tercatat 57,37 persen, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 53,04 persen. Jumlah tamu yang menginap juga meningkat 5,96 persen menjadi 61.269 orang dari 57.825 orang pada Mei 2026.
Rasio tamu mancanegara terhadap tamu nusantara pada Juni 2026 sebesar 0,007, yang berarti dari 1.000 tamu yang menginap, hanya tujuh orang berasal dari luar negeri. Rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang tercatat 1,67 hari.