JAMBI — Keputusan ini diumumkan di tengah tekanan biaya logistik yang kerap membebani sektor transportasi dan manufaktur. Dengan adanya pemangkasan harga, Pertamina Patra Niaga berharap daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi komponen energi bisa ditekan.
Penurunan harga tersebut merupakan bagian dari mekanisme penyesuaian harga bulanan yang lazim dilakukan badan usaha penyalur BBM. Pertamina Patra Niaga selaku subholding commercial & trading PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa formula yang digunakan mengacu pada rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan kurs mata uang dolar Amerika Serikat.
Daftar Harga Terbaru dan Jenis BBM yang Terdampak
Tiga produk yang mengalami penyesuaian adalah Pertamax, Pertamax Turbo, dan Dexlite. Untuk jenis Pertamax, harga turun dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 12.500 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo yang sebelumnya dijual Rp 13.900 per liter kini dipatok Rp 13.400 per liter.
Adapun untuk Dexlite, bahan bakar diesel dengan cetane number 51 ini mengalami penurunan sebesar Rp 250 per liter. Harga terbaru Dexlite menjadi Rp 13.150 per liter dari sebelumnya Rp 13.400 per liter. Ketetapan ini berlaku di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina yang menjual produk nonsubsidi.
Perlu dicatat, harga tersebut berlaku untuk wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) tertentu. Di sejumlah daerah dengan tarif pajak berbeda, harga akhir di pompa bisa bervariasi beberapa ratus rupiah.
Mengapa Harga Bisa Turun dan Siapa yang Diuntungkan
Pelemahan harga minyak mentah global dalam sebulan terakhir menjadi pemicu utama. Data acuan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan tren penurunan seiring meredanya ketegangan geopolitik dan meningkatnya pasokan dari negara produsen non-OPEC.
Dampaknya langsung terasa bagi pengusaha logistik dan angkutan umum yang menggunakan Dexlite. "Kami menyambut baik penurunan ini, meski tipis, karena volume pemakaian kami besar. Dalam sebulan, selisihnya bisa terasa di kas operasional," ujar seorang pengelola armada truk di kawasan Cakung, Jakarta Timur, saat dihubungi.
Konsumen kendaraan bermesin bensin beroktan tinggi juga mendapat angin segar. Penurunan harga Pertamax membuat selisih dengan Pertalite semakin ramping, sehingga pengguna kendaraan injeksi modern bisa memilih bahan bakar yang lebih ramah mesin tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Skema Penyesuaian dan Prospek ke Depan
Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi akan dievaluasi kembali pada awal bulan depan. Jika tren penurunan harga minyak dunia berlanjut, bukan tidak mungkin akan ada pemangkasan lagi. Sebaliknya, jika harga acuan naik, penyesuaian ke atas juga bisa terjadi.
Berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, yang harganya ditetapkan pemerintah dan tidak berubah mengikuti pasar, produk nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar. Kebijakan ini diambil untuk menjaga kesehatan fundamental bisnis Pertamina di tengah beban kompensasi energi yang ditanggung APBN.
Langkah ini juga menjadi sinyal positif bagi iklim investasi di sektor hilir migas. Stabilitas pasokan dan harga yang kompetitif membuat operator swasta dan mitra bisnis Pertamina lebih percaya diri dalam melakukan ekspansi jaringan SPBU di daerah-daerah baru.