KERINCI — Rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas di Kabupaten Kerinci, Jambi, tercatat mencapai 8,76 tahun pada 2025. Angka ini setara dengan kelas VII atau setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun masih berada di bawah rata-rata provinsi yang mencapai 8,95 tahun. Data tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan dihimpun oleh Katadata Insight Center.
Angka RLS Kerinci: Naik 0,8 Tahun dalam Satu Dekade
Dalam kurun waktu 2015 hingga 2025, rata-rata lama sekolah penduduk Kerinci menunjukkan tren peningkatan. Pada 2015, RLS di kabupaten ini tercatat sebesar 7,96 tahun. Artinya, dalam satu dekade terakhir, angka ini bertambah sekitar 0,8 tahun.
Meski terus membaik, capaian Kerinci masih tertinggal jika dibandingkan dengan rata-rata provinsi Jambi. Pada 2025, selisihnya mencapai 0,19 tahun. Secara nasional, rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia pada tahun yang sama diperkirakan berada di kisaran 9,2 tahun.
Faktor Geografis dan Akses Sekolah Jadi Tantangan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, melalui data yang dihimpun, mengakui bahwa faktor geografis menjadi salah satu hambatan utama. Wilayah Kerinci yang berbukit dan tersebar membuat akses ke sekolah menengah pertama dan atas tidak selalu mudah bagi sebagian warga.
“Kami terus mendorong pemerataan akses pendidikan, terutama di daerah pedalaman. Tapi memang butuh waktu dan infrastruktur yang memadai,” ujarnya dalam sebuah kesempatan sebelumnya.
Angka Putus Sekolah dan Partisipasi Murni Perlu Ditingkatkan
Selain RLS, indikator lain seperti Angka Partisipasi Murni (APM) untuk jenjang SMP dan SMA juga menjadi perhatian. Data BPS menunjukkan bahwa APM SMP di Kerinci pada 2024 tercatat sekitar 78 persen, sementara APM SMA hanya 55 persen. Artinya, masih ada sekitar 22 persen anak usia SMP dan 45 persen anak usia SMA yang tidak bersekolah atau tidak terdaftar di jenjang yang sesuai.
Pemkab Kerinci, melalui program wajib belajar 12 tahun, menargetkan peningkatan APM hingga 85 persen untuk SMP dan 70 persen untuk SMA pada 2026. Program ini mencakup pemberian bantuan operasional sekolah (BOS) daerah, beasiswa bagi siswa kurang mampu, dan pembangunan ruang kelas baru di daerah terpencil.
Apa Dampaknya bagi Warga Kerinci?
Rata-rata lama sekolah yang rendah berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kerinci. Tenaga kerja dengan pendidikan setara SMP cenderung memiliki akses terbatas ke sektor formal dan upah yang lebih rendah. Sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata menjadi penopang utama ekonomi Kerinci, namun seringkali tidak membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah juga menggandeng perusahaan swasta dan lembaga pelatihan untuk menyediakan program keterampilan vokasi. Tujuannya, agar warga yang tidak sempat melanjutkan ke jenjang SMA tetap memiliki kompetensi yang relevan dengan pasar kerja lokal.