JAKARTA — Rupiah berhasil memulihkan posisinya setelah data terbaru Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa aktivitas dunia usaha di dalam negeri sedang dalam fase ekspansi. Kurs rupiah menguat 0,45 persen dari posisi sebelumnya Rp17.986 per dolar AS. Penguatan juga tercatat di kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI yang naik ke level Rp17.944 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.041 per dolar AS.
Survei BI: Sektor Riil Mulai Bergerak
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi setelah BI merilis Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 tercatat di angka 12,97 persen, meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 10,11 persen.
“Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Sektor Pertanian dan Tambang jadi Motor Utama
Kenaikan SBT didorong oleh kinerja mayoritas lapangan usaha utama. Tiga sektor yang mencatatkan peningkatan paling signifikan adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan; konstruksi; serta pertambangan dan penggalian. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga ikut mendorong aktivitas ekonomi seiring dengan permintaan yang terjaga selama rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan liburan sekolah.
Kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 73,8 persen, lebih tinggi dari realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33 persen. Peningkatan ini terutama ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, dan pengadaan listrik.
Kondisi Keuangan Perusahaan Masih Sehat
Dari sisi internal perusahaan, BI mencatat bahwa kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik. Aspek likuiditas dan rentabilitas berada dalam zona aman, dengan akses kredit yang tetap mudah diperoleh oleh pelaku usaha.
Meski begitu, responden survei memperkirakan aktivitas bisnis akan sedikit melambat pada kuartal III-2026 dengan SBT diproyeksikan turun ke 11,75 persen. Sektor yang diperkirakan masih tumbuh adalah industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor, serta konstruksi yang didorong oleh pengerjaan proyek pemerintah dan swasta. Sektor pertambangan dan penggalian juga diprediksi meningkat seiring penurunan curah hujan.
Konflik Global Bayangi Prospek Suku Bunga AS
Dari sisi eksternal, Ibrahim menambahkan bahwa konflik yang terus berlanjut antara AS dengan Iran menjadi sentimen negatif yang diwaspadai. Kekhawatiran akan kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi global dan mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve.
“Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan meningkatkan kemungkinan bahwa inflasi tetap di atas target,” kata Ibrahim. Para pembuat kebijakan di AS disebut masih membutuhkan data harga yang rendah selama beberapa bulan ke depan sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.
Sementara itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan di level 51,43 persen pada kuartal II/2026. Angka ini lebih rendah dari periode sebelumnya yang sebesar 52,03 persen, namun masih berada di atas level ekspansi 50 persen. Komponen yang mendorong ekspansi antara lain Volume Produksi (53,81 persen), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00 persen), serta Volume Total Pesanan (52,77 persen).