Data Center dan Listrik Jadi Penerima Manfaat Terbesar Booming AI, Investasi Infrastruktur Capai Rp 355 Triliun

Penulis: Faisal Zuber  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:24:31 WIB
Investasi infrastruktur digital diproyeksikan mencapai Rp 355 triliun untuk menopang pertumbuhan kecerdasan buatan di Indonesia.

JAMBI — Investor yang ingin menangkap tren AI di bursa saham Indonesia disarankan untuk melirik perusahaan infrastruktur, bukan sekadar emiten teknologi. Pasalnya, ledakan komputasi AI membutuhkan daya listrik besar, jaringan fiber berkecepatan tinggi, serta sistem pendingin yang mumpuni untuk menopang operasional pusat data.

Pendiri komunitas pasar saham Cuan Bagger, Susi Setiawati, mengungkapkan kebutuhan pendinginan untuk AI data center bisa mencapai 100-200 kilowatt (kW) per rack. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan data center konvensional yang hanya membutuhkan 10-35 kW per rack. "Jadi, boom AI = boom kebutuhan listrik + data center + jaringan + pendingin," tulisnya dalam analisis yang dikutip, Jumat (21/8).

Rantai Manfaat AI dan Proyeksi Pertumbuhan Pasar Data Center

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menjelaskan rantai manfaat AI mengalir dari GPU, data center, listrik, fiber, cooling, konstruksi, hingga cloud. Indonesia dinilai tidak memiliki eksposur besar pada produsen GPU maupun hyperscaler global, tetapi berpotensi menjadi lokasi fisik tempat komputasi berjalan.

"Sektor infrastruktur yang menopang ekosistem tersebut paling menikmati, mulai dari data center, listrik, fiber connectivity, cooling hingga konstruksi," kata Elandry kepada Katadata.co.id pada Jumat (21/8).

Riset KB Valbury Sekuritas berjudul The AI Economy: Unlocking Indonesia's Growth Potential Amid Structural Constraints memperkirakan pasar pusat data Indonesia tumbuh dari US$ 1,83 miliar (Rp 32,5 triliun) pada 2026 menjadi US$ 3,48 miliar (Rp 61,87 triliun) pada 2031. Angka tersebut setara dengan tingkat pertumbuhan majemuk (CAGR) 13,7%.

Kapasitas IT load dalam negeri juga diproyeksikan melonjak dari 1,44 gigawatt (GW) pada 2025 menjadi 3,56 GW pada 2030. Saat ini, kapasitas data center yang beroperasi baru mencapai sekitar 580 megawatt (MW) dengan tambahan potensi 1,3 GW.

Emiten Pilihan: Dari DCII Hingga ISAT

Sebagian analis menempatkan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Indointernet Tbk (EDGE) sebagai emiten pure play yang paling mudah dikaitkan dengan pertumbuhan pusat data. Keduanya dinilai memiliki aset kolokasi yang siap menyerap permintaan komputasi AI.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga menarik perhatian karena memiliki kombinasi eksposur di sektor energi dan data center. Sementara itu, PT Indosat Tbk (ISAT) disebut memiliki eksposur langsung terhadap infrastruktur AI melalui rencana pembangunan AI Factory di Batang, Jawa Tengah, yang membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi dan latency rendah.

Relokasi Investasi dari Singapura dan Peluang Konstruksi

Susi Setiawati menyoroti peluang Indonesia mendapatkan relokasi investasi data center setelah Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan energi. "Sebagian investasi kemudian mengalir ke Malaysia dan kini semakin banyak mengarah ke Indonesia," tulisnya.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tren ini sebaiknya dipandang sebagai capex supercycle untuk infrastruktur digital, bukan sekadar tema saham teknologi. Setiap tambahan GPU akan membutuhkan kapasitas pusat data baru, yang pada akhirnya mendorong permintaan listrik dan fiber sebagai komponen strategis.

Dengan total investasi infrastruktur yang diperkirakan mencapai US$ 15 miliar-US$ 20 miliar, sektor konstruksi dan kelistrikan berpotensi menjadi pemenang utama dalam beberapa tahun ke depan. Namun, realisasi proyek tetap bergantung pada kepastian regulasi dan ketersediaan lahan di kawasan ekonomi khusus.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Faisal Zuber
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top