JAMBI — Beban keuangan tiga raksasa konstruksi pelat merah itu terus membengkak di tengah efisiensi anggaran pemerintah. Kondisi ini menjadi alasan utama Presiden Prabowo Subianto menyebut rencana restrukturisasi BUMN sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Melalui penggabungan dan perampingan jumlah BUMN yang sudah berjalan, pemerintah mengklaim telah menghemat sekitar Rp 50 triliun per tahun. Dana yang sebelumnya tersedot untuk gaji direksi dan komisaris kini dialihkan ke sektor produktif.
"Ini artinya setiap tahun Rp 50 triliun tidak lagi habis untuk membiayai gaji direksi dan komisaris, dan hal-hal yang tidak produktif. Uang itu sekarang kita gunakan untuk investasi, untuk industrialisasi, untuk peningkatan pelayanan, dan hal-hal yang langsung bermanfaat bagi rakyat," ujar Prabowo.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencatatkan rugi bersih Rp 3,93 triliun pada 2025, atau membengkak 51,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Perusahaan ini nyaris tidak pernah mencetak laba sejak 2019, bahkan setelah penyajian ulang laporan keuangan dilakukan.
Akar masalahnya ada pada struktur permodalan yang rapuh. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) Waskita mencapai 18,27 kali pada 2025, jauh di atas rata-rata perusahaan konstruksi yang berkisar 3-6 kali. Total liabilitas perusahaan masih bertengger di angka Rp 67,1 triliun.
Pendapatan proyek yang signifikan selalu tergerus oleh cicilan pinjaman dan beban bunga perbankan maupun obligasi. Meski sudah ada kesepakatan Master Restructuring Agreement (MRA) dengan bank kreditur, pembatasan fasilitas kredit baru membuat Waskita kesulitan memenangkan proyek besar. Pemulihan arus kas jangka pendek sangat bergantung pada keberhasilan divestasi ruas tol strategis.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk mencatat kerugian paling dalam di antara tiga BUMN karya, yakni Rp 9,71 triliun pada 2025. Angka ini memburuk drastis dibanding rugi Rp 2,27 triliun pada tahun sebelumnya.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi salah satu sumber pendarahan keuangan. WIKA menggenggam 33,36 persen saham di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dan harus membukukan bagian rugi bersih entitas asosiasi sekitar Rp 1,7 triliun setiap tahunnya dari ekosistem Whoosh.
Pembengkakan biaya proyek (cost overrun) dan struktur pembiayaan tenor panjang membuat beban bunga utang WIKA mencapai sekitar Rp 3 triliun per tahun. Efisiensi anggaran pemerintah yang gencar juga menekan perolehan kontrak baru, yang susut dari Rp 33,35 triliun pada 2022 menjadi Rp 17,43 triliun tahun lalu.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebenarnya baru mencatatkan kerugian dalam dua tahun terakhir. Namun kedalamannya meningkat signifikan, dari rugi Rp 86,75 miliar pada 2024 menjadi Rp 5,4 triliun pada 2025.
Keterlibatan di proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek menjadi kontributor utama kerugian. Skema pembayaran turnkey dengan termin panjang oleh pemerintah atau PT Kereta Api Indonesia memaksa Adhi menalangi biaya konstruksi menggunakan pinjaman bank berbiaya tinggi. Lambatnya pencairan dana menciptakan defisit arus kas operasi yang membebani neraca selama bertahun-tahun.
Hingga kini, pembangunan LRT Jabodebek menyisakan utang kepada Adhi Karya sebesar Rp 2,2 triliun yang akan dibayarkan melalui PT KAI. Selain LRT, perusahaan juga terlibat dalam berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan investasi jalan tol dengan pendanaan yang mengandalkan pinjaman.
Ketiga BUMN karya ini kini berada dalam fase kritis. Keberhasilan restrukturisasi utang dan divestasi aset menjadi penentu apakah mereka bisa bangkit atau terus terpuruk dalam kubangan kerugian.