JAMBI — Tekanan terhadap rupiah pada hari ini tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia juga kompak melemah terhadap greenback. Rupee India turun 0,04%, yuan Cina melemah 0,01%, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,74%. Yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,08% dan 0,09%. Pelemahan ini terjadi meskipun ada sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar saat ini tengah menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini dinilai perlu untuk menahan laju pelemahan rupiah di tengah derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik. Ekspektasi tersebut membuat investor cenderung wait and see, menahan diri untuk mengambil posisi beli di pasar valuta asing.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, rupiah masih berpotensi menguat meski sangat terbatas. Ia menyebut kondisi fundamental domestik yang masih lemah menjadi faktor penahan utama. "Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sepanjang tahun berjalan 2025, rupiah telah kehilangan 6,25% nilainya terhadap dolar AS. Level Rp 17.724 per dolar AS yang tercatat pagi ini menjadi titik terendah baru, melampaui rekor-rekor pelemahan sebelumnya yang sempat terjadi saat krisis moneter 1998 maupun pandemi 2020.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu dipengaruhi oleh data ekonomi global dan kebijakan moneter domestik.