JAMBI — Gelar juara yang diraih Porto pekan lalu bukan sekadar trofi biasa. Tim biru-putih mengakhiri paceklik tiga musim tanpa gelar liga, sekaligus memulihkan reputasi Farioli yang sempat hancur di Belanda. Kini, namanya kembali masuk daftar incaran klub-klub besar Eropa.
Dari Ajax ke Porto: Jatuh Hingga Bangkit Kembali
Musim lalu, Farioli mengalami titik terendah kariernya. Ajax yang ia latih kehilangan gelar Eredivisie setelah unggul sembilan poin di lima pertandingan terakhir. "Saya merasa ada stempel 'pecundang' di dahi saya," katanya kepada media Inggris.
Para klub yang sempat mendekatinya mundur perlahan. Namun, Presiden Porto, André Villas-Boas, mengambil risiko besar. Ia memercayakan tim pada Farioli—pelatih ketiga yang masih muda dalam setahun, setelah Vítor Bruno dan Martín Anselmi. "Itu bukan keputusan rasional," aku Farioli. "Tapi Villas-Boas punya keyakinan yang dalam."
Filosofi Farioli: Kiper sebagai Kunci Taktik
Di Porto, Farioli menerapkan sistem yang khas. Ia menjadikan kiper sebagai fondasi taktik, menciptakan superioritas numerik di fase awal pembangunan serangan. Sosok Diogo Costa menjadi figur ideal: kiper timnas Portugal yang punya ketenangan mengumpan seperti gelandang.
"Kiper memiliki perspektif unik karena ia melihat permainan secara global," ujar Farioli. Hasilnya, Porto menjadi tim dengan pertahanan terbaik liga musim ini—hanya kebobolan 18 gol dalam 34 laga.
Data Fisik, Museum Klub, dan Kenangan Jorge Costa
Farioli tidak hanya mengandalkan taktik. Ia membawa pemain barunya ke museum klub untuk menanamkan kembali nilai dan mistik Porto yang mulai pudar. "Kami harus mengubah atmosfer emosional di sekitar tim," jelasnya.
Musim Porto juga diwarnai duka. Direktur sepak bola Jorge Costa meninggal dunia di pusat latihan pada awal musim. Bendera klub yang menutupi peti matinya digantung di tribun stadion. Farioli mengingat satu kalimat Costa: "Kita punya tim lagi."
Di sisi fisik, Porto unggul dalam total jarak tempuh, lari kecepatan tinggi, dan sprint di hampir semua pertandingan. "Itu menjadi konfirmasi efektivitas perencanaan fisik kami," kata Farioli.
Bintang Muda Victor Froholdt dan Masa Depan Farioli
Salah satu temuan berharga musim ini adalah Victor Froholdt. Gelandang Denmark berusia 20 tahun yang dibeli dari Copenhagen seharga €20 juta (sekitar £17,3 juta) semula dianggap investasi berisiko. Kini ia disebut sebagai pembelian murah: tanpa lelah saat kehilangan bola, tajam saat menguasainya, dan menentukan di momen krusial.
Nama Farioli sempat dikaitkan dengan Chelsea sebelum klub London itu menunjuk Xabi Alonso. Penggemar Porto khawatir terjadi pengulangan sejarah 15 tahun lalu, ketika Villas-Boas hengkang ke Stamford Bridge usai juara. Namun Farioli menegaskan komitmennya.
"Saya merasa harus terus maju dan mendorong lagi—sekarang ekspektasi bahkan lebih tinggi," ucapnya. "Tiga pekan lalu, dari luar, ada tanda tanya besar di kepala saya. Kini ada tanda seru yang harus dikonfirmasi dan dibuktikan."