JAMBI — Leicester City mengawali musim 2024/2025 di League One dengan hasil imbang 1-1 melawan Notts County, beberapa hari setelah pengumuman mengejutkan bahwa klub dijual oleh pemiliknya, King Power. Keluarga asal Thailand itu telah memegang kendali sejak 2010 dan membawa klub meraih gelar Premier League yang bersejarah pada 2016, sebuah kisah yang dianggap sebagai salah satu dongeng terbesar dalam sejarah sepak bola.
Kepercayaan diri dan kebanggaan itu sempat hancur ketika Vichai Srivaddhanaprabha, sang ketua, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di stadion pada 2018. Di bawah kepemimpinan putranya, Aiyawatt, klub justru mengalami dua kali degradasi dalam dua tahun terakhir, memicu kritik tajam dari para penggemar dan berujung pada keputusan untuk melepas klub.
Heskey: "Mereka Membuat Setiap Klub Percaya Punya Peluang"
Emile Heskey, yang memulai kariernya di Leicester dan kini menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola untuk tim wanita, angkat bicara. Ia menilai proses penjualan klub tidak akan berjalan cepat dan akan melibatkan negosiasi yang panjang dan berbelit-belit.
"Saya tidak berpikir ini akan selesai dalam waktu dekat, akan ada banyak proses negosiasi yang panjang untuk menyelesaikannya. Tapi kita tidak bisa mengabaikan apa yang telah dilakukan keluarga Thailand ini untuk kami di Leicester, untuk sepak bola, dan untuk Premier League," ujarnya kepada FourFourTwo.
"Leicester City dan pemiliknya membuat setiap klub di negeri ini percaya bahwa mereka punya peluang. Bahwa siapa pun bisa mewujudkannya. Memang sekarang kondisinya sedikit asam, tapi mereka sudah melakukan pekerjaan yang fantastis," tambah Heskey.
Warisan yang Ditinggalkan: Fasilitas dan Sentuhan Sosial
Heskey, yang berbicara dalam kapasitasnya sebagai duta klub, menekankan bahwa fondasi yang ditinggalkan King Power sangatlah kuat. Ia menyebut fasilitas latihan kelas dunia, stadion megah, serta skuad yang layak sebagai modal berharga bagi pemilik baru nanti.
"Siapa pun yang mengambil alih akan memiliki fondasi yang indah, dengan fasilitas pelatihan untuk tim pria dan wanita, stadion, dan skuad yang layak untuk melompat ke level berbeda. Anda hanya bisa melepas topi untuk mereka dan berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan, bukan hanya untuk klub tetapi juga untuk kota," pujinya.
Lebih jauh, Heskey menyoroti kontribusi sosial keluarga Srivaddhanaprabha yang sering luput dari sorotan. Menurutnya, mereka telah melakukan banyak hal fantastis untuk rumah sakit dan badan amal anak-anak di Leicester.
Kritik dan Realitas Finansial di Balik Penjualan
Meski memuji, Heskey juga mengakui bahwa keputusan manajemen dalam beberapa tahun terakhir memang menuai kritik. Namun, ia membela pemilik dengan menjelaskan bahwa semua upaya telah dilakukan demi kemajuan klub, termasuk berani membelanjakan uang di luar batas Financial Fair Play (FFP).
"Mereka telah melakukan apa yang mereka yakini benar untuk klub. Memang sedikit melenceng, tapi Anda tidak bisa menyalahkan mereka karena kenyataannya, dengan aturan financial fair play, mereka sudah mengeluarkan uang berlebihan. Anda tidak bisa bilang mereka tidak mengeluarkan uang," tegas Heskey.
"Itu salah satu hal yang sering dikatakan penggemar di banyak klub: 'Kami tidak mengeluarkan uang'. Tapi tidak, mereka sudah mengeluarkan uang, mereka mengeluarkan uang terlalu banyak untuk mencoba keluar dari lubang jarum. Mereka mencoba melakukannya dengan cara yang mereka yakini benar, sekarang kami berada dalam situasi sulit, dan mungkin sudah waktunya bagi orang lain untuk membawa ini ke tahap berikutnya," pungkasnya.