Pencarian

5 Desa Wisata di Jambi yang Memesona, Tersembunyi di Antara Perkebunan dan Bukit

Rabu, 15 Juli 2026 • 14:51:00 WIB
5 Desa Wisata di Jambi yang Memesona, Tersembunyi di Antara Perkebunan dan Bukit
Suasana perkebunan kelapa sawit dan karet di Jambi yang menjadi latar desa wisata tersembunyi di provinsi tersebut.

Provinsi Jambi sering terlewatkan saat wisatawan membicarakan Sumatra. Padahal, di balik perkebunan kelapa sawit dan karet yang membentang, ada desa-desa yang menyimpan panorama serta budaya yang tak kalah dengan daerah tetangga. Bukan sekadar tempat singgah, desa-desa ini menawarkan interaksi langsung dengan alam dan masyarakat setempat.

Berikut lima desa wisata yang bisa kamu jelajahi. Catat, harga tiket dan jam buka bisa berubah sewaktu-waktu — pastikan konfirmasi langsung ke pengelola sebelum berangkat.

1. Desa Wisata Batu Kerbau, Peleburan Dua Budaya

Terletak di Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, desa ini unik karena dihuni mayoritas Suku Anak Dalam (Suku Kubu) yang telah berasimilasi dengan pendatang. Kamu bisa belajar meramu obat tradisional dari hutan atau ikut ritual tangkap ikan di sungai.

Akses dari Kota Jambi sekitar 6-7 jam perjalanan darat. Waktu terbaik berkunjung adalah Juni hingga September saat cuaca lebih kering.

2. Desa Wisata Rantau Kermas, Pemandian Air Panas Alami

Berada di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, desa ini terkenal dengan sumber air panas belerang yang mengalir langsung dari lereng Gunung Masurai. Kolam pemandiannya masih alami — dasar sungai berbatu dan suhu air sekitar 40 derajat Celsius.

Jangan lupa mampir ke kebun kopi warga. Kopi robusta khas Merangin punya cita rasa earthy yang kuat. Jalannya cukup terjal, kendaraan roda dua lebih disarankan.

3. Desa Wisata Lempur, di Kaki Gunung Rajo

Desa di Kabupaten Kerinci ini punya pemandangan sawah terasering yang menghijau sepanjang tahun. Udara sejuk khas pegunungan (suhu rata-rata 18-22 derajat Celsius) membuat siapa pun betah berlama-lama.

Di sini ada tradisi "Kenduri Seko" — upacara adat syukuran panen yang digelar setahun sekali. Jika beruntung, kamu bisa menyaksikan tarian pencak silat khas Kerinci yang diiringi gendang.

4. Desa Wisata Muara Jaya, Ekowisata Mangrove

Tepat di pesisir Timur, tepatnya Kecamatan Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Desa ini punya hutan mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi. Warga setempat membangun jembatan kayu sepanjang 800 meter untuk memudahkan pengunjung menyusuri hutan.

Bawa perahu kecil ke tengah sungai — kamu bisa melihat monyet ekor panjang dan burung bangau. Ini lokasi ideal untuk fotografer burung.

5. Desa Wisata Sungai Penuh, Kota Kecil dengan Seribu Cerita

Ibu Kota Kabupaten Kerinci ini sebenarnya sudah seperti kota kecil, tapi beberapa kampung di sekitarnya masih mempertahankan rumah adat panggung. Di sini ada Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang jadi habitat harimau sumatra.

Kamu bisa trekking ke Danau Gunung Tujuh — danau kawah tertinggi di Asia Tenggara. Jalurnya menantang, butuh waktu 3-4 jam dari pos pendakian. Siapkan fisik dan logam dingin yang cukup.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah desa-desa ini bisa dikunjungi dengan kendaraan pribadi?
Sebagian besar bisa, kecuali Desa Rantau Kermas yang jalannya cukup sempit dan berbatu. Untuk ke desa di Kerinci, pastikan kendaraan dalam kondisi prima karena banyak tanjakan curam.

Berapa biaya menginap di homestay desa wisata?
Tarif bervariasi tergantung fasilitas — ada yang Rp 100 ribuan per malam, ada juga paket lengkap dengan makan. Hubungi pengelola desa wisata setempat untuk info terkini.

Apakah ada pemandu wisata lokal?
Ada. Biasanya pemuda desa atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang siap menemani. Tarifnya sukarela atau sesuai kesepakatan.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke desa wisata Jambi?
Mei hingga Oktober — musim kemarau di Jambi. Hindari Desember-Februari karena curah hujan tinggi dan jalanan licin.

Apa oleh-oleh khas yang bisa dibeli?
Kopi Kerinci, madu Sialang, kain tenun Melayu Jambi, dan dodol khas Bungo.

Desa-desa di atas hanya sebagian kecil dari kekayaan Jambi. Setiap kunjungan akan berbeda — tergantung musim, siapa yang kamu temui, dan seberapa jauh kamu mau berjalan. Jangan ragu bertanya pada warga setempat; mereka biasanya lebih tahu sudut-sudut yang tidak tercatat di peta.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks