BATANGHARI — Kekeringan yang melanda Kabupaten Batanghari, Jambi, memaksa warga di Desa Danau Embat dan Terusan mencari sumber air alternatif. Mereka memanfaatkan mata air yang berada di kawasan perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak sehari-hari.
Puluhan warga terlihat antre mengambil air menggunakan jeriken dan ember di lokasi tersebut. Jarak tempuh dari permukiman ke titik mata air bervariasi, sebagian harus berjalan kaki hingga ratusan meter melewati jalan kebun yang licin dan berbukit.
Salah seorang warga Desa Danau Embat mengaku sudah lebih dari dua minggu tidak bisa mengandalkan sumur pribadinya. Debit air yang keluar hanya sedikit dan keruh, tidak layak pakai untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
"Kalau untuk mandi dan cuci masih bisa dipakai, tapi untuk masak kami terpaksa ambil di kebun. Di sini airnya lebih bersih," ujarnya ketika ditemui di lokasi pengambilan air, Selasa (25/8/2026).
Kondisi ini memaksa warga mengatur waktu. Mereka biasanya datang pagi hari sebelum beraktivitas atau sore hari sepulang bekerja agar tidak terjadi antrean panjang di titik mata air.
Mata air di kebun sawit tersebut memang tidak pernah kering, namun debitnya terbatas. Jika diambil terus-menerus oleh banyak warga dalam waktu bersamaan, aliran air menjadi kecil dan butuh waktu untuk mengisi kembali.
Warga berharap pemerintah desa maupun kabupaten segera menindaklanjuti dengan pengadaan sumur bor atau penyaluran air bersih berskala besar. Bantuan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan harus mengandalkan mata air yang jaraknya jauh dari permukiman.
Kepala desa setempat belum memberikan tanggapan resmi terkait usulan tersebut. Namun, sejumlah warga menyebutkan bahwa laporan kekeringan sudah disampaikan melalui perangkat RT dan RW setempat.
Fenomena kemarau yang melanda Jambi bagian tengah ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Warga berharap pemerintah daerah segera menyiapkan langkah antisipasi agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, keterbatasan air juga mulai berdampak pada sektor pertanian warga. Beberapa petani di sekitar Desa Danau Embat mengaku terpaksa menunda masa tanam karena lahan tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.