JAMBI — Klaim tersebut disampaikan Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Selasa (18/8) malam. Menurutnya, realisasi program peremajaan tebu seluas 130 ribu hektare menjadi kunci percepatan produksi.
"Tahun 2026 ini kita boleh berbangga bahwa tahun 2026 ini kita bisa membuat gula konsumsi itu swasembada," ujar Roni.
Pasca-swasembada, Kementan memfokuskan diri pada empat program utama agar produksi tebu terus meningkat. Pertama, penyediaan benih unggul yang selama ini sulit diakses petani. Bantuan yang disiapkan sebanyak 60 ribu mata tunas per hektare, berdasarkan kalkulasi standar riset Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).
Kedua, pemberian subsidi pupuk khusus tebu, yakni ZA. Ketiga, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp500 juta bagi petani tebu tanpa melalui BI Checking. Keempat, Kementan meminta asosiasi gula dan pengusaha bertindak sebagai offtaker atau pembeli hasil produksi petani.
"Supaya gulanya dia yang beli," tegas Roni.
Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Dyan Garneta, menyebut kapasitas industri gula nasional masih cukup untuk mengolah tambahan produksi tebu. Saat ini terdapat sekitar 59 pabrik gula aktif dengan total kapasitas produksi sekitar 4 juta ton.
Dengan produksi gula konsumsi yang ditaksir sekitar 3 juta ton pada 2026, masih terdapat ruang kapasitas pengolahan sekitar 1 juta ton atau setara 25 persen.
"Jadi masih ada ruang 25 persen lagi untuk bisa di-improve. Masih kita bisa menggiling 1 juta ton lagi," kata Dyan.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, mengingatkan peningkatan produksi jangka panjang bergantung pada perbaikan produktivitas tanaman. Berdasarkan data 2024, sekitar 86 persen tebu rakyat memerlukan bongkar ratoon atau peremajaan.
"Kalau dibongkar tadi, apa percepatan yang bisa saya publik awam bayangkan? Tebu ini kan memang secara siklusnya, setelah empat tahun, itu terjadi penurunan produktivitas, dan juga terjadi penurunan rendemen yang sangat signifikan," jelas Mahmudi.
Penataan varietas juga menjadi pekerjaan rumah. Komposisi varietas tebu saat ini belum ideal untuk mendukung kebutuhan musim giling. Tebu membutuhkan waktu sekitar 150 hari untuk digiling, namun varietas masa awal yang idealnya sekitar 30 persen dari total tanaman, saat ini baru mencapai 7,5 persen.
Keberhasilan swasembada gula konsumsi tidak serta-merta menghentikan impor untuk kebutuhan industri. Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Dwi Purnomo Putranto, menyebut Indonesia masih memiliki sekitar 11 pabrik gula rafinasi yang mengandalkan bahan baku impor.
Menurutnya, peningkatan produksi gula domestik harus diikuti roadmap yang jelas untuk mengintegrasikan pasokan industri gula nasional dengan pabrik rafinasi yang telah beroperasi. Tanpa integrasi tersebut, lonjakan produksi dalam negeri berisiko tidak terserap optimal oleh pasar industri.