TANGERANG SELATAN — Gagasan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui hilirisasi produk peternakan diwujudkan oleh seorang peternak asal Solo. Dharmawan Catur, pemilik UMKM bubuk telur, mendemonstrasikan cara menggoreng telur dadar dari bubuk produksinya di tengah keramaian bazar perumahan di Kelurahan Pondok Ranji, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (15/8).
"Negara yang kuat itu negara yang ketahanan pangannya kuat. Inovasi telur menjadi bubuk telur merupakan salah satu upaya nyata agar ketahanan pangan negara kita kuat," kata Catur di stan bazar miliknya.
Berbeda dengan telur segar yang mudah rusak, bubuk telur buatan Catur melalui serangkaian proses panjang untuk memastikan keamanan dan ketahanannya. Tahapannya mencakup pasteurisasi untuk membunuh bakteri, desugarisasi untuk mengurangi kadar glukosa, serta pengeringan dengan mesin khusus guna menghilangkan kadar air.
Setelah kering, produk ini diberi sedikit garam dan penyedap rasa sebelum dikemas dalam saset. Klaimnya, tanpa tambahan pengawet, bubuk telur ini mampu bertahan hingga delapan bulan.
Sejak beroperasi pada Januari 2026, kapasitas produksi UMKM ini mencapai rata-rata 100 kilogram bubuk telur per hari. Untuk tahap awal, pemasaran masih difokuskan pada sistem purchase order (PO) dengan skema bisnis ke bisnis (B2B).
Keunggulan utama produk ini adalah kemudahan penyimpanan tanpa pendinginan khusus dan praktis untuk dibawa. Bagi para peternak ayam, inovasi ini dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomis produksi sekaligus menjadi solusi saat harga telur di pasar sedang anjlok.
Saat demonstrasi berlangsung, Catur sempat melontarkan candaan yang membuat pengunjung tertawa. "Telur Pak Catur berminyak," ujarnya, merespons teriakan seorang ibu yang mempromosikan stan dagangannya di tengah kerumunan.