JAMBI — Kia Sportage Hybrid generasi sekarang memasuki tahun keempat produksinya. Untuk model 2026, pabrikan Korea ini tidak sekadar mengubah bumper depan dan belakang seperti kebiasaan facelift. Ubahannya lebih dalam: grille baru ala Telluride, motor listrik lebih bertenaga, dan penambahan dua varian baru yang memperluas pilihan konsumen.
Kami menguji varian tertinggi SX-Prestige AWD yang dibanderol USD 42.085 (sekitar Rp 673 juta). Angka ini naik USD 2.900 dibanding model 2025 yang dipatok USD 39.185. Kenaikan harga tersebut sebagian besar disebabkan oleh tambahan fitur standar seperti head-up display, kursi belakang berpemanas, dan velg 19 inci.
Bagian paling kontroversial dari Sportage 2023–2025 adalah desain depannya—grille "tiger nose" dengan lampu boomerang yang sulit dijelaskan bahkan oleh staf Kia sendiri. Untuk 2026, Kia mengambil pendekatan yang lebih aman dengan mengadopsi gaya grille Telluride yang baru saja didesain ulang secara dramatis.
Hasilnya transformatif. Bagian depan kini terlihat lebih kotak, kokoh, dan punya kehadiran visual yang lebih kuat di jalan. Menariknya, grille baru ini menyatu mulus dengan bodywork lama yang tidak berubah sama sekali. Ubahan lain hanya ada di lampu belakang dengan elemen LED baru, plus velg 19 inci untuk varian SX-Prestige dan X-Line.
Satu catatan minor: desain velg empat jari-jari terlihat kurang pas. Tapi ini soal selera, bukan masalah fungsional.
Di dalam kabin, Kia menghapus ventilasi udara yang sebelumnya membingkai layar—memberikan dashboard tampilan lebih bersih. Material glossy black yang rawan sidik jari juga diganti dengan trim matte-gunmetal yang lebih praktis. Layar infotainment kini 12,3 inci di semua varian, naik dari 8,0 inci di LX lama.
Fitur baru yang paling terasa adalah head-up display standar di SX-Prestige, dan sistem adaptive cruise control yang diperbarui. Sistem ini kini bisa melakukan automated lane change dan lane centering yang lebih cerdas—mobil akan bergeser dalam lajur jika kendaraan di samping terlalu dekat.
Tapi ada satu keanehan: setir berbentuk "squircle" dengan dua jari-jari. Bentuknya tidak biasa, dan saat memutar setir, Anda tidak pernah tahu persis posisi pelek yang akan dipegang. Ini mengganggu, terutama saat parkir atau manuver cepat.
Motor listrik utama kini menghasilkan 64 hp, naik dari 59 hp. Total tenaga gabungan mencapai 232 hp—hanya naik 5 hp dari sebelumnya, tetapi cukup untuk memangkas waktu 0-96 km/jam dari 7,4 detik menjadi 6,9 detik. Di quarter mile, catatannya 15,3 detik di 148 km/jam, lebih baik dari 15,6 detik di 145 km/jam.
Sayangnya, setir terasa terlalu banyak friksi saat berjalan lurus, membuat Anda sulit merasakan apa yang terjadi di roda depan. Saat menikung, feedback-nya membaik dan build-up-nya natural. Tapi suspensi terasa underdamped—terlalu banyak pantulan setelah melewati gundukan besar, seolah-olah Kia memasang velg 19 inci pada mobil yang disetel dengan velg 18 inci.
Di lintasan, grip turun dari 0,83 g menjadi 0,79 g. Jarak pengereman 0-112 km/h membaik dari 176 kaki menjadi 172 kaki.
Ini kabar buruknya: rating EPA untuk varian AWD turun dari 38 mpg menjadi 35 mpg (sekitar 14,9 km/L dari sebelumnya 16,2 km/L). Kia tidak menjelaskan apakah ini akibat perubahan powertrain, velg lebih besar, atau bobot yang naik 45 pon. Apapun penyebabnya, efisiensi yang tadinya sudah biasa saja kini makin mengecewakan untuk sebuah hybrid.
Sportage Hybrid 2026 adalah paket yang membingungkan. Kia berhasil memperbaiki desain dan performa, tapi mengorbankan efisiensi bahan bakar yang justru menjadi alasan utama orang membeli hybrid. Jika Anda mengincar SX-Prestige, siapkan budget lebih—atau turun satu level ke X-Line seharga USD 37.185 yang menawarkan sebagian besar fitur penting dengan harga lebih masuk akal.
Untuk pasar Indonesia, perlu dicatat bahwa varian hybrid Sportage belum masuk secara resmi—model yang dijual di sini masih versi bensin konvensional. Namun jika Kia memutuskan membawa versi hybrid ke Tanah Air, konsumen perlu mempertimbangkan trade-off antara tenaga tambahan dan efisiensi yang justru menurun.