JAMBI — Peristiwa itu mulai diketahui warga sekitar pukul 12.00 WIB ketika kepulan asap terlihat dari puncak Gunung Andong. Laporan tersebut langsung memicu mobilisasi cepat lintas instansi dari posko di Dusun Temu Kidul, Desa Jogoyasan, Kecamatan Ngablak.
Api tidak melahap jalur pendakian utama, melainkan area yang jarang tersentuh manusia. Kondisi ini justru menjadi kendala terbesar bagi petugas di lapangan karena medan yang curam dan licin mempersulit akses pemadaman.
Sururi, pengelola basecamp pendaki Gunung Andong via Temu Kidul, mengatakan tim gabungan menemukan setidaknya delapan titik api yang tersebar. Material yang terbakar didominasi daun kering, daun pinus, dan ranting-ranting yang berserakan di lantai hutan.
"Kami naik (bersama) dari Polsek, Koramil, kami juga kerja sama. Akhirnya api bisa dipadamkan pukul 16.00 WIB," ujar Sururi kepada wartawan di posko Dusun Temu Kidul, Senin (10/8).
Angin kencang menjadi faktor utama yang membuat proses pemadaman berlarut-larut. Beberapa titik yang sempat padam kembali menyala karena hembusan angin meniup bara ke area yang masih dipenuhi material kering.
"Karena yang tadi itu banyak yang sudah ditinggal (padam), tapi nyala lagi. Karena angin cukup kencang dan daun-daun cukup kering, banyak ranting-ranting yang jatuh," kata Sururi menjelaskan tantangan di lapangan.
Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Pagergunung, Lukas Munadi, merinci lokasi terdampak berada di Petak 27 A PRH Pagergunung BKPH Ambarawa KPH Kedu Utara. Dua blok hutan terdampak, yakni Petak 27 A 1 seluas 2,85 hektare dan Petak 27 A 3 seluas 0,82 hektare.
Vegetasi yang hangus meliputi tanaman kriyu, ilalang, kaliandra, dan pohon pinus. Kerugian materi akibat kebakaran ini ditaksir mencapai Rp 541.500.
Proses pemadaman dilakukan secara manual oleh tim gabungan dengan alat seadanya. Petugas memukul titik api menggunakan dahan basah dan menyebar tanah untuk memutus pasokan oksigen. Metode sederhana ini dipilih karena medan tidak memungkinkan kendaraan pemadam maupun pompa air mencapai lokasi kejadian.
Menurut Sururi, area yang terbakar bukan merupakan akses pendakian resmi sehingga jarang dilalui pendaki. "(Yang terbakar) Itu bukan akses pendakian. Itu cuma akses yang enggak pernah dijamah sama orang. Kendalanya (memadamkan) itu medan yang cukup terjal dan jarang dilalui, akhirnya licin jalan itu," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab awal munculnya api. Pihak kepolisian dan Perhutani masih melakukan pendataan serta penyelidikan di lokasi kejadian untuk memastikan apakah kebakaran disebabkan faktor alam atau ulah manusia.