JAKARTA — Pergerakan rupiah di pasar valuta asing kembali menunjukkan penguatan di tengah tekanan global yang masih membayangi. Berdasarkan data penutupan perdagangan Senin, mata uang Garuda berhasil naik 87 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.897 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan, ketahanan rupiah saat ini tidak lepas dari fundamental ekonomi nasional. Ia menyebut posisi cadangan devisa yang masih tinggi menjadi bantalan utama bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi di pasar.
"Rupiah masih mendapat dukungan dari kondisi cadangan devisa yang relatif kuat," ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Data terakhir menunjukkan cadev Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di angka 145,3 miliar dolar AS. Angka ini turun tipis dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS.
Kendati terkoreksi, level tersebut dinilai masih memberikan ruang gerak yang cukup bagi otoritas moneter. Kemampuan BI untuk menstabilkan nilai tukar melalui intervensi valuta asing pun dinilai belum terhambat.
Meski demikian, Amru mengingatkan bahwa penurunan cadev ini merupakan sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih perlu diwaspadai. Pergerakan nilai tukar ke depan akan sangat bergantung pada sentimen global, terutama kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Dari sisi eksternal, penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS yang berada di posisi 99,6. Level tersebut merupakan titik terendah sejak awal Juni, menyusul rilis data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Data yang mengecewakan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini secara langsung menekan dolar AS dan memberikan angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar kini dihadapkan pada satu variabel kunci: data inflasi AS. Angka inflasi yang akan dirilis dalam waktu dekat ini disebut-sebut menjadi indikator utama yang membentuk ekspektasi terhadap keputusan The Fed pada pertemuan September 2026 mendatang.
"Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendorong penguatan dolar AS," ungkap Amru.
Untuk jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif. Amru memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Peluang penguatan lanjutan masih terbuka, namun sifatnya terbatas. Jika data inflasi AS yang akan dirilis nanti tercatat lebih rendah dari estimasi pasar, maka ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed bakal semakin menguat. Kondisi itu berpotensi mendorong rupiah untuk menembus level psikologis terendahnya.