Rupiah Menguat 0,46% ke Rp17.814 per Dolar AS, Cadangan Devisa Jadi Penopang Utama

Penulis: Zulkarnain Hamid  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 10:30:01 WIB
Petugas menunjukkan pergerakan nilai tukar rupiah di papan digital bursa valas.

JAMBI — Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan Senin (10/8) ini berbanding terbalik dengan proyeksi sejumlah analis. Meski sempat menguat ke Rp17.814 per dolar AS, pasar masih dibayangi sentimen eksternal yang berpotensi menahan laju mata uang domestik lebih jauh.

Data dari Yahoo Finance mencatat posisi rupiah yang sedikit berbeda, berada di level Rp17.908 per USD pada waktu yang sama, menunjukkan disparitas tipis antar platform data. Perbedaan ini kerap terjadi di pasar valas akibat perbedaan metode penilaian dan waktu transaksi antar penyedia data.

Analis Prediksi Rupiah Ditutup Melemah di Akhir Sesi

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berlangsung fluktuatif. Menurutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda masih akan datang dari menguatnya indeks dolar AS di pasar global, sehingga rupiah berpotensi ditutup melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.890 per USD hingga Rp17.940 per USD," jelas Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (10/8).

Untuk perdagangan selama sepekan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang yang lebih lebar. "Diperkirakan di level Rp17.780 per USD sampai Rp18.020 per USD," tambahnya.

Cadangan Devisa Juli 2026 Terjaga di USD145,3 Miliar

Sentimen positif yang menopang penguatan rupiah pagi ini datang dari data cadangan devisa Indonesia yang relatif stabil. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 sebesar USD145,3 miliar, hanya turun tipis dibandingkan posisi Juni 2026 yang mencapai USD145,6 miliar.

Penurunan sekitar USD300 juta tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor transaksi. BI menyebutkan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi penopang utama penurunan, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa juga mendapat sokongan dari penerimaan pajak, jasa, serta penerbitan global bond pemerintah. Kombinasi transaksi ini membuat penurunan cadangan devisa tetap terkendali di tengah gejolak global.

Setara 5,5 Bulan Impor, Masih di Atas Standar Kecukupan

Dengan posisi tersebut, cadangan devisa Indonesia setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level ini masih berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

BI menilai posisi cadangan devisa yang memadai ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Bank sentral juga meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap baik ke depan, didukung aliran masuk modal asing.

Aliran modal asing tersebut sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi Indonesia yang dinilai tetap menarik. BI terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Zulkarnain Hamid
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top