JAMBI — Ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik kini menjadi perhatian serius PT PLN (Persero). Perusahaan listrik pelat merah itu menilai situasi tersebut semakin menegaskan pentingnya ketahanan energi nasional, di mana LNG tidak hanya berfungsi sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan.
"Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel," ujar Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Bali, Senin (3/6/2026).
Lonjakan konsumsi listrik nasional tidak bisa dihindari. Ekspansi sektor industri, elektrifikasi transportasi, hingga bermunculannya kawasan ekonomi baru menjadi pendorong utama. Yang paling menonjol, kebutuhan listrik untuk pusat data (data center) diproyeksikan melonjak signifikan, dengan tambahan kebutuhan sekitar 15 GW dalam lima tahun mendatang.
Data internal PLN menunjukkan kebutuhan energi primer nasional tumbuh sekitar 2 persen per tahun. Namun, permintaan listrik meningkat jauh lebih tinggi, yakni di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen per tahun. Angka ini menuntut ketersediaan pasokan gas dan LNG yang semakin andal untuk menjaga fleksibilitas sistem kelistrikan, sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).
Peta jalan kelistrikan nasional dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 memperlihatkan perubahan besar. Produksi listrik nasional diperkirakan meningkat dari 304,4 terawatt hour (TWh) menjadi 584,3 TWh. Pada periode yang sama, porsi pembangkit berbasis batu bara diproyeksikan turun drastis menjadi sekitar 47 persen, sementara kontribusi EBT meningkat hingga 33 persen.
Di tengah peralihan ini, LNG akan memegang peran krusial sebagai energi penyeimbang (balancing fuel). Kehadirannya menjadi kunci untuk menjaga keandalan sistem saat pembangkit surya dan angin mengalami fluktuasi akibat kondisi cuaca. Tanpa pasokan gas yang memadai, transisi ke energi hijau berisiko mengganggu stabilitas pasokan listrik nasional.
Untuk mengamankan pasokan ini, PLN tidak hanya mengandalkan kontrak jangka panjang, tetapi juga membangun infrastruktur pendukung. Langkah ini dinilai penting untuk menjamin pasokan listrik yang aman, andal, dan fleksibel di tengah dinamika kebutuhan energi nasional yang terus berubah.