JAMBI — JAKARTA — Kabar gembira bagi para investor yang berniat menggarap proyek listrik tenaga sampah. PLN memastikan akan meneken kontrak jual-beli listrik selama tiga dekade penuh dengan pengembang proyek PSEL. Jaminan ini menjadi jawaban atas salah satu kekhawatiran utama pelaku bisnis: kepastian pendapatan jangka panjang.
Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, mengungkapkan pemerintah sudah bergerak cepat membenahi aturan yang selama ini menghambat investasi di sektor waste-to-energy. "Regulasi untuk proyek PSEL telah kami sederhanakan," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Rabu (29/7/2026). Langkah ini diambil agar realisasi pembangunan pembangkit sampah tidak lagi tersendat birokrasi.
Dengan adanya kepastian kontrak 30 tahun dari PLN, risiko bisnis bagi pengembang menjadi lebih terukur. Investor tidak perlu khawatir listrik yang mereka hasilkan tidak terserap, karena PLN sudah menjamin pembeliannya dalam jangka waktu panjang.
Proyek PSEL tidak hanya soal bisnis listrik. Bagi masyarakat perkotaan yang selama ini dirundung masalah sampah, proyek ini menawarkan solusi konkret. Sampah yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan diolah menjadi energi listrik. Artinya, satu proyek menjawab dua masalah sekaligus: krisis energi dan darurat sampah.
PLN sendiri selama ini terus mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran listrik nasional. Dengan kontrak 30 tahun, pengembang PSEL punya waktu yang cukup untuk mengembalikan modal investasi yang tidak murah—mengingat teknologi pengolahan sampah menjadi listrik masih tergolong mahal di tahap awal.
Pemerintah membuka peluang bagi badan usaha swasta, baik lokal maupun asing, untuk menjadi mitra pengembang. Syarat utamanya: pengembang harus memiliki kapasitas teknis dan finansial yang mumpuni untuk membangun serta mengoperasikan pembangkit sampah. Dengan skema PPA 30 tahun, para mitra tidak perlu pusing memikirkan pembeli listrik—cukup fokus pada produksi dan efisiensi operasional.
Kebijakan ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Konversi sampah menjadi listrik juga sejalan dengan target bauran EBT nasional yang terus ditingkatkan setiap tahun.
Dengan adanya jaminan kontrak panjang dan regulasi yang sudah dipangkas, proyek PSEL kini menjadi salah satu ladang investasi paling menjanjikan di sektor ketenagalistrikan Indonesia. Kuncinya kini ada di tangan para pengembang: apakah mereka siap menyambut peluang ini?