Proyek kacamata pintar dengan kecerdasan buatan (AI) dari Apple, yang selama ini dikabarkan akan menjadi pesaing langsung Meta Ray-Ban Stories, resmi diundur. Informasi ini pertama kali diungkap oleh sumber internal yang dekat dengan tim pengembangan, seperti dikutip oleh sejumlah media teknologi global. Alasan utamanya bukan pada keterbatasan chip atau daya tahan baterai, melainkan satu hal yang jauh lebih fundamental: bagaimana perangkat ini merekam dan memproses data visual tanpa melanggar privasi orang di sekitar pengguna.
Masalah utama ada pada desain kamera dan sensor yang terintegrasi. Agar fitur AI bisa bekerja secara real-time—misalnya mengidentifikasi objek, menerjemahkan teks, atau memberikan informasi konteks—kacamata ini harus terus-menerus "melihat" dunia luar. Ini berbeda dengan smartphone yang jelas-jelas diangkat saat digunakan. Kacamata pintar, karena bentuknya yang wearable, menimbulkan ambiguitas: kapan perangkat ini merekam dan kapan tidak?
Kekhawatiran ini bukan sekadar teori. Meta sempat menghadapi gelombang kritik atas fitur kamera tersembunyi di Ray-Ban Stories, yang dianggap bisa digunakan untuk merekam orang tanpa sepengetahuan mereka. Apple, yang selalu menjadikan privasi sebagai nilai jual utama, tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Keputusan menunda peluncuran menunjukkan bahwa Apple lebih memprioritaskan reputasi jangka panjang dibanding keunggulan first-mover. Di pasar Asia, termasuk Indonesia, isu privasi perangkat kamera publik mulai mendapat perhatian lebih, terutama setelah kasus penyalahgunaan kamera tersembunyi di tempat umum. Jika Apple asal meluncurkan produk setengah matang, risiko regulasi dan backlash konsumen bisa sangat mahal.
Tim internal Apple dikabarkan sedang mengerjakan ulang mekanisme indikator perekaman—seperti lampu LED yang tidak bisa dimatikan secara software—serta sistem izin kontekstual yang lebih ketat. Belum ada jadwal rilis baru yang diumumkan, tapi sumber yang sama menyebut proyek ini tidak dibatalkan, hanya ditunda hingga solusi privasi benar-benar matang.
Penundaan ini memberi ruang bagi kompetitor seperti Meta dan Google untuk menguasai pasar lebih dulu. Namun, langkah Apple juga bisa menjadi standar baru: bahwa perangkat AI wearable tidak boleh diluncurkan hanya karena teknologinya sudah ada, tapi harus aman dari sisi etika dan hukum. Bagi konsumen di Indonesia yang mulai melirik kategori produk ini, keputusan Apple justru bisa menjadi kabar baik—produk yang akhirnya hadir nanti kemungkinan besar akan lebih aman digunakan di ruang publik tanpa membuat orang lain merasa diawasi.