JAMBI — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mengendus praktik penyalahgunaan pembelian BBM bersubsidi melalui sistem QR Code. Modus yang terungkap bukan lagi antrean berkali-kali di stasiun pengisian, melainkan volume isi ulang yang tidak wajar dalam satu bulan. Data menunjukkan satu nomor kendaraan mencatat pembelian hingga 2.560 liter dalam 30 hari.
Angka 2.560 liter per bulan langsung menimbulkan kecurigaan. Sebagai gambaran, tangki mobil penumpang konvensional rata-rata hanya 40-60 liter. Jika pengisian dilakukan setiap hari, dibutuhkan 85 liter per hari untuk mencapai volume tersebut — mustahil untuk kendaraan standar.
Pola ini mengindikasikan adanya pembelian oleh pihak ketiga yang menggunakan data kendaraan untuk mengisi jeriken atau tangki tambahan. Sistem QR Code yang dirancang untuk membatasi pembelian per kendaraan justru dimanipulasi dengan cara mendaftarkan kendaraan fiktif atau memanfaatkan data yang tidak terverifikasi secara berkala.
Program QR Code BBM subsidi diluncurkan untuk memastikan bahan bakar bersubsidi tepat sasaran. Sistem ini membatasi volume pembelian harian dan memantau riwayat transaksi secara digital. Namun, temuan anomali ini menunjukkan bahwa celah teknis masih terbuka lebar.
Belum ada keterangan resmi dari Pertamina atau Kementerian ESDM mengenai langkah korektif spesifik. Namun, temuan ini memicu pertanyaan: apakah data kendaraan diverifikasi langsung ke Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) atau cukup input manual oleh pemilik? Jika input manual masih dimungkinkan, celah penyalahgunaan akan terus ada.
Pemerintah diprediksi akan memperketat verifikasi data kendaraan yang terdaftar dalam sistem QR Code. Salah satu opsi adalah mengharuskan foto STNK atau integrasi langsung dengan database Kepolisian. Selain itu, volume pembelian bulanan yang melampaui batas wajar bisa dipicu alarm otomatis untuk audit manual.
Untuk pemilik kendaraan pribadi, sistem ini sejatinya tidak mengganggu. Konsumsi normal mobil harian di bawah 100 liter per bulan masih aman. Masalah muncul ketika data kendaraan disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Pemilik disarankan memeriksa riwayat pembelian QR Code di akun masing-masing secara berkala.
Sampai ada tindak lanjut resmi, temuan anomali 2.560 liter ini menjadi catatan serius: digitalisasi tanpa pengawasan data hanyalah pindah celah, bukan menutupnya.