JAMBI — Final Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat menyajikan duel sengit antara Spanyol dan Argentina. Laga yang berlangsung di hadapan puluhan ribu penonton itu nyaris dirusak oleh taktik penguluran waktu Argentina yang agresif, hingga akhirnya harus bermain dengan 10 pemain di babak perpanjangan waktu setelah Enzo Fernández mendapat kartu kuning kedua.
Gol semata wayang baru tercipta pada menit ke-106. Berawal dari umpan silang Pedro Porro yang disundul Nico Williams, Torres langsung melepaskan tembakan voli yang menghujam atap gawang Emiliano Martínez. Gol ini mengingatkan publik pada peran Andres Iniesta di final 2010 lalu.
Sebelum gol, Torres sempat mencetak gol dari setengah lapangan pada menit ke-114, tapi dianulir karena offside tipis. Teknologi semi-otomatis langsung memastikan keputusan wasit.
Strategi Argentina memancing emosi Spanyol hampir berhasil. Leandro Paredes nyaris diusir beberapa kali, sementara seorang pemain Argentina bahkan memukul perut pemain pengganti Spanyol setelah peluit akhir. Enzo Fernández akhirnya diusir keluar lapangan pada babak perpanjangan waktu setelah dua pelanggaran beruntun.
Menariknya, final 2026 ini mengulangi skenario 1990, di mana Argentina juga kehilangan dua pemain karena kartu merah di partai puncak.
Dominasi Spanyol begitu mutlak. Argentina baru melepaskan tembakan pertama ke gawang pada menit ke-117 lewat tendangan jarak jauh Lionel Messi yang mengenai wajah Mikel Merino. Expected goals (xG) Argentina tercatat hanya 0,04 — angka terendah dalam sejarah final Piala Dunia.
Satu-satunya peluang emas Argentina datang dari Giovanni Simeone yang membuang bola dari jarak 10 yard pada menit ke-100. Sebelumnya, tembakan kerasnya berhasil ditepis Pau Cubarsi di tiang dekat.
Momen di luar lapangan juga menyita perhatian. Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino memasuki lapangan disambut cemoohan penonton. Komentator BBC Wayne Rooney bahkan menyebut sepatu putih Infantino "stupid".
Half-time show ala Super Bowl yang digelar pada jeda pertandingan juga menuai kritik. Inovasi ini melanggar aturan IFAB yang membatasi jeda hanya 15 menit, dan dianggap sebagai bentuk "Amerika memaksakan diri" pada sepak bola dunia.
Spanyol hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen. Bek tengah Barcelona, Pau Cubarsi, dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen — mengalahkan rekan setimnya Lamine Yamal. Sergio Ramos, legenda yang dikenal dengan gaya bermain keras, menjadi pembawa trofi ke lapangan.
"Mereka adalah tim sepak bola paling murni di dunia dan yang terbaik," tulis laporan langsung pertandingan.