JAMBI — Lonjakan permintaan global terhadap mineral tanah jarang mendorong Brasil mengakselerasi eksploitasi cadangan yang dimilikinya. Negara dengan luas wilayah terbesar di Amerika Selatan itu kini menjadi pusat perhatian para raksasa tambang dunia yang mencari alternatif pasokan di luar China. Langkah ini dinilai sebagai ancaman serius bagi dominasi Beijing yang selama ini menguasai lebih dari 60 persen produksi dan pemrosesan mineral tanah jarang global.
Brasil memiliki salah satu cadangan mineral tanah jarang terbesar di dunia, tersebar di wilayah Amazon dan negara bagian Minas Gerais. Sumber daya alam ini mencakup elemen-elemen kritis seperti neodymium, praseodymium, dan disprosium yang dibutuhkan untuk memproduksi magnet permanen pada turbin angin, kendaraan listrik, dan perangkat elektronik canggih.
Perusahaan-perusahaan tambang multinasional dari Amerika Serikat, Australia, dan Eropa mulai mengalihkan eksplorasi mereka ke Brasil. Salah satu proyek terbesar adalah tambang Araxá yang dikelola oleh konsorsium internasional, diperkirakan mampu memproduksi 30.000 ton konsentrat mineral tanah jarang per tahun pada fase pertama operasinya.
Pemerintah Brasil tidak hanya membuka keran investasi hulu. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva mendorong industri pengolahan dalam negeri agar nilai tambah mineral tanah jarang dinikmati di dalam negeri. Kebijakan ini mencakup insentif pajak bagi perusahaan yang membangun pabrik pemurnian dan pemisahan elemen tanah jarang di wilayah Brasil.
Langkah ini serupa dengan kebijakan hilirisasi nikel dan bauksit yang diterapkan Indonesia. Bedanya, Brasil menghadapi tantangan regulasi lingkungan yang lebih ketat, terutama di kawasan Amazon yang sensitif secara ekologis.
Dominasi China selama puluhan tahun di sektor ini membuat Beijing mengontrol rantai pasok dari hulu ke hilir. Perusahaan-perusahaan China menguasai 90 persen kapasitas pemurnian global. Namun, dengan masuknya Brasil sebagai produsen baru, tekanan terhadap harga dan pasokan diperkirakan meningkat.
Analis memperkirakan produksi Brasil dapat menekan harga mineral tanah jarang hingga 15-20 persen dalam lima tahun ke depan. Hal ini menjadi kabar baik bagi industri hilir di seluruh dunia yang selama ini bergantung pada pasokan China dengan harga yang fluktuatif.
Perubahan peta persaingan ini berdampak langsung pada rantai pasok industri strategis, termasuk produsen baterai kendaraan listrik dan turbin angin. Indonesia yang juga memiliki cadangan mineral tanah jarang di beberapa wilayah, seperti Bangka Belitung dan Kalimantan, berpotensi terdorong untuk mempercepat eksplorasi dan hilirisasi serupa.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya menyatakan Indonesia tengah melakukan pemetaan potensi mineral tanah jarang secara lebih detail. Langkah Brasil yang agresif bisa menjadi tolok ukur sekaligus pemicu bagi Indonesia untuk bergerak lebih cepat dalam mengelola sumber daya strategis ini.