Motorola resmi meluncurkan Razr Ultra sebagai flagship foldable 2026, menggantikan posisi Z Flip 7 yang kini berkuasa di pasar global. Selisih harga mencapai jutaan rupiah — Z Flip 7 dimulai dari $1.100 (sekitar Rp 17,6 juta), sementara Razr Ultra lebih mahal. Penulis ZDNET yang mencoba keduanya di lapangan membedah mana yang lebih layak beli. ---
JAMBI — Sepanjang 2026, industri smartphone lipat dipanaskan dua pemain besar. Samsung mempertahankan Galaxy Z Flip 7 dengan layar bawah 4,1 inci yang lebih besar dari generasi sebelumnya, desain tipis 13,7 milimeter, dan daya tahan baterai yang signifikan lebih baik. Motorola menyusul dengan Razr Ultra yang dirancang sebagai flagship andalannya, dilengkapi beberapa peningkatan hardware yang dianggap Motorola dapat menandingi kompetitor.
Pemilihan harga antara dua flagship ini mencerminkan strategi bisnis berbeda. Galaxy Z Flip 7 resmi Rp 17,6 juta, tapi di pasar sekunder seperti Amazon, model 256GB tersedia harga Rp 14,4 juta — atau lebih murah lagi dengan memanfaatkan program trade-in dan refurbishment dari operator lokal. Beberapa carrier bahkan menawarkan Z Flip 7 gratis untuk pelanggan baru.
Razr Ultra memasuki segmen harga premium yang lebih tinggi, mengasumsikan pembeli bersedia bayar lebih untuk hardware improvements yang Motorola tawarkan. Strategi ini sebaliknya dengan Samsung, yang fokus menjangkau volume penjualan lebih luas melalui pricing agresif.
Dalam event Hollywood, penulis merasakan langsung komitmen Motorola pada perbaikan hardware di Razr Ultra. Meski waktu testing terbatas untuk review menyeluruh, beberapa area menunjukkan Razr Ultra siap memberikan "persaingan nyata" bagi Z Flip 7. Motorola fokus pada durabilitas lipatan, material frame, dan mekanisme engsel — aspek yang selama ini menjadi kekhawatiran konsumen pada foldable.
Samsung tidak tinggal diam. Z Flip 7 hadir dengan FlexWindow cover display 4,1 inci yang lebih terang dan responsif ketimbang pendahulu. Desain 13,7 milimeter membuat perangkat terasa premium tanpa beban berat saat disimpan di kantong celana.
Salah satu keunggulan Samsung yang sulit ditandingi adalah ekosistem Galaxy AI yang matang. Sejak 2024, Samsung sudah mengintegrasikan AI generatif ke rangkaian produk, memberikan pengguna akses ke fitur seperti Circle to Search — kemampuan melingkari objek di layar untuk pencarian instan. Motorola masih tertinggal dalam hal kedalaman integrasi AI ke sistem operasi.
Bagi pengguna Indonesia yang sudah berinvestasi dalam ekosistem Samsung, upgrade ke Z Flip 7 memberikan sinergi langsung dengan perangkat lain mereka. Razr Ultra menawarkan Android murni, tapi belum ada nilai tambah khusus di sisi software yang membedakannya signifikan dari kompetitor.
Z Flip 7 pantas dipertimbangkan bagi konsumen yang mengutamakan harga, daya tahan baterai, dan akses AI ecosystem terintegrasi. Dengan promosi operator lokal, harga efektif bisa turun hingga 20 persen dari MSRP resmi.
Razr Ultra cocok untuk early adopter yang menginginkan hardware foldable dengan desain dan mekanik terdepan, dan siap bayar premium untuk itu. Pilihan ini lebih tentang apresiasi terhadap inovasi hardware daripada ekosistem software.
Momen peluncuran Razr Ultra menunjukkan kompetisi flagship foldable kini makin matang. Dua tahun lalu, konsumen memilih foldable lebih sebagai gadget gimmick. Kini keduanya menawarkan produktivitas nyata — tinggal soal berapa harga yang rela dikeluarkan untuk itu.