Pencarian

IHSG Menguat 0,20 Persen ke 5.924 Jelang Akhir Pekan, Ikuti Bursa Asia yang Terdorong Sinyal Damai AS-Iran

Jumat, 10 Juli 2026 • 21:30:01 WIB
IHSG Menguat 0,20 Persen ke 5.924 Jelang Akhir Pekan, Ikuti Bursa Asia yang Terdorong Sinyal Damai AS-Iran
IHSG menguat 0,20 persen ke posisi 5.924 pada perdagangan Jumat, didukung sinyal damai AS-Iran.

JAKARTA — IHSG berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau sepanjang sesi perdagangan Jumat, dari pembukaan hingga penutupan sesi kedua. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengaitkan penguatan ini dengan meredanya kekhawatiran geopolitik global.

Sinyal Damai AS-Iran Dorong Bursa Asia

Nico menjelaskan bahwa pasar merespons positif laporan mengenai kelanjutan negosiasi diplomasi antara AS dan Iran setelah serangan militer di Teluk awal pekan ini. Harapan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal untuk tetap melanjutkan proses perundingan.

"Jelang akhir pekan, IHSG dan Bursa regional Asia bergerak menguat menyusul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan melanjutkan negosiasi perdamaian," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan bahwa langkah Iran yang berupaya melakukan negosiasi turut membantu meredakan kekhawatiran pasar tentang gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dan tekanan inflasi global.

IPO Ramai dan Proyeksi IMF Jadi Katalis Domestik

Dari dalam negeri, aktivitas pasar modal juga terbilang sibuk. Sepanjang pekan ini, tercatat sebanyak enam perusahaan telah melangsungkan Initial Public Offering (IPO) di pasar modal Indonesia. Hal ini menunjukkan minat emiten untuk mencari pendanaan di bursa masih tinggi.

Sentimen positif lainnya datang dari laporan Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Juli 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5,0 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027.

"Proyeksi itu menunjukkan pertumbuhan yang realistis di saat perlambatan yang dialami sejumlah negara di kawasan Asia maupun ekonomi besar dunia," ujar Nico menambahkan. Prediksi ini tidak berubah dari laporan IMF pada April 2026, yang menilai Indonesia tangguh di tengah tren perlambatan ekonomi global.

Energi Pimpin Penguatan, Sektor Industri Tertekan

Secara sektoral, pergerakan saham cukup bervariasi. Tujuh dari sebelas sektor di IDX-IC berhasil ditutup menguat. Sektor energi menjadi pemimpin kenaikan dengan apresiasi 0,97 persen, disusul oleh sektor barang baku dan properti yang masing-masing naik 0,56 persen.

Di sisi lain, empat sektor lainnya justru tertekan. Sektor industri mengalami pelemahan paling dalam, yaitu turun 0,67 persen. Sektor infrastruktur dan barang kesehatan juga ikut terkoreksi masing-masing sebesar 0,58 persen dan 0,48 persen.

Frekuensi perdagangan saham pada Jumat tercatat sebanyak 1.900.000 kali transaksi. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 15,61 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp8,84 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 383 saham naik, 252 saham menurun, dan 330 saham stagnan.

Saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar antara lain PRDL, RANS, BKPD, KONI, dan KOKA. Sedangkan saham yang memimpin pelemahan adalah JELI, BAPA, JECX, SKBM, dan HATM.

Bagaimana Perbandingan dengan Bursa Asia Lain?

Penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham regional Asia. Indeks Nikkei di Jepang melesat 1,58 persen ke 68.814,00. Indeks Hang Seng di Hong Kong dan Strait Times di Singapura sama-sama menguat 0,60 persen, masing-masing ke 24.175,12 dan 5.466,31. Satu-satunya yang melemah adalah indeks Shanghai di China yang terkoreksi 1,00 persen ke posisi 3.911,16.

Bagikan
Sumber: jambi.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks