JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin terasa di tengah gejolak geopolitik global. Pada penutupan perdagangan Kamis, mata uang Garuda harus merelakan posisinya jatuh ke level psikologis baru di Rp18.128 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi yang terbaru dalam rangkaian tekanan yang dihadapi rupiah sepanjang pekan ini.
Konflik Global Kembali Panaskan Permintaan Dolar
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa tensi tinggi antara AS dan Iran menjadi katalis utama pergerakan dolar. “Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Kondisi ini memicu pelarian modal ke instrumen berbasis dolar, yang secara langsung menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Harga Minyak WTI Meroket, Inflasi Global Mengintai
Selain faktor politik, lonjakan harga minyak mentah dunia ikut memperburuk prospek rupiah. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik ke kisaran 74 dolar AS per barel.
Kenaikan harga komoditas energi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Imbasnya, ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi semakin menguat. Suku bunga tinggi di AS biasanya akan menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelaku Pasar Menanti Data Klaim Pengangguran AS
Pergerakan rupiah dalam waktu dekat juga akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS. Pelaku pasar saat ini menantikan data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS yang dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Data tersebut akan menjadi indikator apakah ekonomi AS masih cukup kuat untuk menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Fundamental Domestik Masih Jadi Penopang, Namun Terbatas
Meski diterpa sentimen eksternal yang negatif, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup terjaga. Hal ini membantu membatasi tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah. Buktinya, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.
“Kenaikan tersebut memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” ungkap Amru.
Selain itu, inflasi yang tetap terkendali dan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter menjadi faktor penopang lainnya. Namun, dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global dibandingkan faktor domestik.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp18.090 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.005 per dolar AS.