MUARO JAMBI — Prevalensi penduduk dengan konsumsi pangan tidak mencukupi atau Prevalence of Undernourishment (PoU) di Kabupaten Muaro Jambi mencapai 8,04 persen pada 2025. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di level 7,89 persen pada tahun yang sama, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Meski lebih rendah dibandingkan provinsi secara umum, angka ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian kecil warga Muaro Jambi yang asupan energinya di bawah standar untuk hidup sehat dan aktif. Dalam lima tahun terakhir, PoU Muaro Jambi tercatat turun tipis 0,13 poin persentase, namun dalam setahun terakhir justru naik 0,26 poin persentase dari 7,78 persen pada 2024.
Apa Itu PoU dan Mengapa Penting?
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU menggambarkan kondisi di mana seseorang secara rutin mengonsumsi pangan dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi guna menjalani hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini menjadi tolok ukur utama status kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah.
Artinya, kurang dari 8,04 persen populasi Muaro Jambi tidak mendapatkan cukup energi dari makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Meskipun terbilang kecil, angka ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan warganya.
Perbandingan Antar-Kabupaten/Kota se-Jambi
Dari 10 kabupaten dan kota di Provinsi Jambi, Muaro Jambi justru mencatatkan PoU terendah. Posisi tertinggi ditempati Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan angka 13,33 persen. Berikut urutan lengkap PoU 2025 di Jambi dari yang terendah:
- Muaro Jambi: 8,04%
- Bungo: 8,16%
- Kota Jambi: 9,14%
- Sarolangun: 9,7%
- Merangin: 10,02%
- Tebo: 10,21%
- Batanghari: 11,14%
- Tanjung Jabung Timur: 11,85%
- Kerinci: 12,15%
- Kota Sungai Penuh: 12,81%
Konteks: PoU Muaro Jambi vs Nasional
Meski menjadi yang terbaik di Provinsi Jambi, capaian Muaro Jambi masih di atas rata-rata nasional (7,89 persen). Artinya, secara nasional, persentase penduduk dengan konsumsi pangan tidak mencukupi di kabupaten ini masih perlu ditekan agar setara atau lebih baik dari level Indonesia.
Data ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat program ketahanan pangan, distribusi bahan pokok, serta intervensi gizi bagi kelompok rentan. Tanpa langkah konkret, tren kenaikan dalam satu tahun terakhir bisa berlanjut dan memperlebar celah antara Muaro Jambi dengan rata-rata nasional.