Pencarian

Kisah Gagalnya Larangan Ekspor Software Keamanan Siber, dari PGP hingga Mythos

Sabtu, 20 Juni 2026 • 23:54:31 WIB
Kisah Gagalnya Larangan Ekspor Software Keamanan Siber, dari PGP hingga Mythos
White House memerintahkan pembatasan ekspor model AI Mythos dan Fable oleh Anthropic.

JAMBI — Pekan lalu, White House memerintahkan Anthropic untuk membatasi ekspor model AI canggih bernama Mythos dan Fable ke seluruh pihak di luar Amerika Serikat, termasuk warga negara asing di dalam negeri. Perusahaan raksasa AI itu langsung menonaktifkan kedua model tersebut dalam waktu sekitar 90 menit setelah menerima pemberitahuan. Hingga kini, kedua model sudah tidak bisa diakses selama seminggu.

Apa yang Memicu Pembatasan Mendadak Ini?

Sejak diluncurkan pada April, Anthropic memasarkan Mythos sebagai "mesin kiamat" digital yang bisa menghancurkan internet jika tersebar terlalu luas. Sebelum larangan berlaku, hanya sekitar 150 perusahaan dan organisasi pemerintah terverifikasi yang bisa mengaksesnya. Tujuannya membantu tim keamanan melindungi perangkat lunak sebelum pihak jahat mencapai kemampuan setara Mythos.

Dua kejadian kemudian memicu keputusan pemerintah. Pertama, Anthropic memberikan akses Mythos ke perusahaan telekomunikasi Korea Selatan melalui program mitra terbatas — yang kemudian diidentifikasi pejabat AS memiliki dugaan hubungan dengan China. Perusahaan tersebut, yang dilaporkan bernama SK Telecom, membantah koneksi apa pun dengan China.

Kedua, CEO Amazon Andy Jassy melaporkan ke pemerintah bahwa peneliti Amazon menemukan cara menembus sistem keamanan Fable 5. Anthropic membantah sebutan "jailbreak" dan menyebutnya sebagai celah sempit yang sudah diperbaiki, bukan kekalahan total sistem keamanan model.

Sejarah Panjang Kegagalan Pembatasan Ekspor Teknologi Siber

Upaya pemerintah membatasi penyebaran teknologi siber yang dianggap berbahaya sudah berlangsung puluhan tahun, namun hasilnya selalu mengecewakan. Salah satu kegagalan paling spektakuler terjadi pada awal hingga pertengahan 1990-an, ketika ilmuwan komputer mengembangkan teknologi enkripsi untuk mengamankan data di internet.

Salah satu produk enkripsi bernama Pretty Good Privacy (PGP) menjadi sasaran. Pemerintah AS menganggap PGP sebagai senjata berbahaya karena bisa mencegah badan intelijen menyadap email. U.S. Customs Service membuka penyelidikan kriminal terhadap pencipta PGP, Phil Zimmermann, atas dugaan pelanggaran kontrol ekspor senjata.

Zimmermann melawan dengan menerbitkan kode sumber PGP sebagai buku cetak, memicu apa yang kini dikenal sebagai "Crypto Wars." Investigasi akhirnya ditutup, membuka jalan bagi algoritma enkripsi end-to-end yang kini digunakan miliaran pengguna Signal dan WhatsApp.

Kontrol Ekspor Spyware Juga Gagal Total

Pada awal 2010-an, peneliti menemukan spyware buatan Barat digunakan melawan aktivis di Timur Tengah. Sejumlah pemerintah kemudian memperluas Wassenaar Arrangement, perjanjian internasional yang membatasi ekspor perangkat lunak dan teknologi penggunaan ganda (sipil dan militer). Tujuannya mengklasifikasikan perangkat lunak pengawasan dan peretasan sebagai teknologi penggunaan ganda, sehingga pembuat spyware wajib mendapatkan lisensi ekspor.

Namun Wassenaar memiliki dua kelemahan bawaan. Beberapa negara tidak mematuhi perjanjian, termasuk Israel yang menjadi rumah bagi beberapa pembuat spyware paling aktif di dunia. Perjanjian ini juga bergantung pada penerapan sukarela oleh masing-masing negara terhadap perusahaan di dalam yurisdiksi mereka.

Italia, misalnya, sempat memberikan lisensi ekspor ke Hacking Team — salah satu pembuat spyware terbesar saat itu — meskipun perusahaan tersebut menjual alat ke pemerintah otoriter yang menggunakannya untuk meretas jurnalis dan aktivis HAM. Negara-negara Eropa lainnya juga terus gagal membatasi ekspor spyware ke rezim otoriter meskipun berbagai skandal terungkap.

Apa Arti Kasus Mythos bagi Masa Depan AI?

Episode ini menjadi uji nyata pertama apakah pemerintah AS bisa menggunakan kontrol ekspor untuk membendung AI frontier — dengan hasil yang tidak pasti seperti pendahulunya. Cara penyelesaian sengketa ini bisa membentuk tidak hanya akses Anthropic ke pasar luar negeri, tetapi juga aturan main yang harus dipatuhi laboratorium AI lainnya.

Belum ada kepastian kapan atau apakah Mythos dan Fable akan bisa diakses kembali. Yang jelas, sejarah menunjukkan bahwa membendung teknologi siber — betapapun berbahayanya — adalah tugas yang hampir mustahil.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks